Love Note
Chapter 8 / 9
This is Fan-Ficsi from Sayaka Dini
With cast:: Member of 2PM
Jang Wooyoung (17thn)
Nichkhun (18thn)
Lee Junho (17thn)
Hwang Chansung (17thn)
Kim Minjun (18thn)
Ok Taecyeon (18thn)
Flashback 2 bulan yang lalu.
Langit cerah di atas sana salah seolah bisa menggambarkan bagaimana gembiranya hati IU. Yeoja itu merenggangkan kedua tangannya sambil memejamkan mata untuk bisa menikmati sejuknya udara Seoul yang sudah lama ia rindukan. Setelah itu, ia kembali menyeret koper pink kecilnya sambil mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
Dan beberapa detik kemudian, IU berseru riang di samping ponselnya. "Yopseyo. Wooyoung oppa! Suprise! Aku pulang. Aku sekarang sudah di Seoul."
"Mwo?" terdengar suara berat di sana terkejut bukan main. "Jijjayo? Tapi kau bilang akan ke Seoul akhir tahun ini, 'kan?"
IU terkekeh. "Mianhe oppa. Aku sedikit berbohong padamu." Dan oborolan sepasang kekasih itu kembali berlanjut lewat telepon. Sementara IU berhenti di pinggiran lampu lalu lintas bersama beberapa orang, menunggu lampu tanda penyebrang jalan berubah menjadi hijau.
Di waktu yang sama, beribu meter tak jauh dari tempat IU, pemuda baby face yang sedang mengendarai mobil sport putihnya itu, sedang menggenakan handset tanpa kabel di telinganya dan menerima telepon yang baru masuk sambil terus mengendarai mobilnya.
"Halo Taec, tumben kau menelponku," sapanya ramah sambil nyengir.
Terdengar helaan nafas di ujung salurannya. "Jangan sok polos kau Nic. Kau tidak tahu seberapa khawatirnya keluargamu mencarimu, hah?"
Nichkhun terkekeh. "Kenapa kau begitu serius menangapi permintaan keluargaku? Yah, meski pertemanan kita dimulai dari hubungan bisnis antara ayah kita semenjak di amerika dulu. Sebagai teman kau seharusnya lebih membelaku daripada ayahku."
Taecyeon mendesah. "Ini bukan tentang aku membela siapa. Tapi ini juga demi kebaikanmu. Sampai kapan kau akan terus putus sekolah seperti ini? Jangan membuat ayahmu terus khawatir."
"Ck, ck, ck," nada suara Nichkhun terdengar di buat-buat. "Sejak kapan kau mengomel seperti orang tua. Aku yakin ayahku di sana tidak sepenuhnya mengkhawatirkanku, yang dia takuti adalah seberapa banyak uangnya yang kuhabiskan di sini." Nichkhun tertawa lirih sambil menoleh ke samping, tanpa melihat jalan di depannya.
Di tempat IU, saking asiknya mengobrol dengan Wooyoung di teleponnya. Ia baru sadar kalau lampu hijau untuk penyebrangan jalan sejak tadi menyala. Dengan tergesa-gesa, sebelum lampu itu kembali berubah merah, IU menyeret paksa koper pink-nya untuk menyebrang di jalan raya. Naasnya, roda kopernya sedikit tersandung aspal trotoar, sontak membuat IU terjerembab jatuh di tengah jalan. Baru saja ia berdiri untuk membersihkan roknya, sebuah mobil sport putih tak jauh darinya melaju kencang ke arahnya.
Sang pengendara, Nichkhun, hanya bisa melotot kaget begitu sadar akan sosok yeoja yang mendadak muncul di hadapannya. Meski ia sudah berusaha menghindar dengan membanting stir ke arah kiri, samping bemper mobilnya masih sempat menyerempet tubuh mungil IU, membuat badan yeoja itu terpelanting ke depan karena benturan itu.
Sementara Nichkhun yang sangat panik itu, semakin panik ketika mobil dari arah berlawanan melaju ke arahnya, dan kecelakaan beruntut itu pun terjadi. Mobil Nichkhun berguling terbalik, tak jauh dari tempat IU pingsan tak sadarkan diri dengan kepala yang mengalirkan darah.
Dan kedua ponsel yang sama-sama masih terhubung dengan Wooyoung dan Taecyeon, hanya bisa berseru kaget karena mendengar suara-suara ribut yang aneh.
"IU! Chagiya? Yobseyo?"
"Nichk? Hey, Nichkhun? What happened?"
.
.
.
Author
Sayaka Dini
.
.
.
Present
.
.
.
Fanfic of 2pm
"Love Note"
Chapter 8
Fantasy / Romance
Boy x boy
Pairing::
Nichkhun x Wooyoung
Chansung x Junho
Taecyeon x Minjun.
.
.
.
Disclamer : Seluruh cast milik
dirinya sendiri
Fanfic ini milik Sayaka Dini sendiri
^^Hope you enjoy my fanfic^^
.
.
.
...
"Chansung-sshi."
"Waeyo SoEun-sshi?" tanya Chansung, dan kembali melanjutkan makanannya. Tak ingin menanggapi serius ucapan teman yang ia kenal sebagai teman sekelas Junho dan Wooyoung.
SoEun tampak ragu-ragu dan sedikit malu-malu, tapi kemudian memutuskan untuk bertanya. "Ku dengar, kau dengan Junho sudah putus. Apa itu benar?"
Jangan salahkan Chansung ketika ia tiba-tiba tersedak makanannya sendiri karena pertanyaan SoEun yang sama sekali tak pernah ia sangka sebelumnya. Ia menepuk dadanya sendiri dengan mulut terbuka, sambil buru-buru mengambil air minumya. Setelah ia rasa kerongkongannya tidak lagi tersedak, ia kembali menatap heran pada So Eun.
"Chansung-sshi? Kau dengar aku 'kan?" tanya So Eun sekali lagi sambil mengibaskan tangan di hadapan chansung yang sedang melongo padanya.
"Ah? Ndeh," jawab Chansung sedikit linglung.
"Apa aku benar? Kalau kalian sudah putus? Habisnya, sejak dua hari lalu, aku tidak pernah melihat kalian jalan bareng," So Eun menghela nafas. "Biasanya 'kan kalian sangat lengket," tambahnya lagi dengan nada yang lebih lirih.
Chansung semakin mengernyit heran. Kenapa yeoja ini begitu memperhatikan hubungan mereka? Ah, benar. Chansung baru ingat. Kim So Eun adalah satu diantara para yeoja yang tak pernah absen pergi ke klub dance setiap harinya hanya untuk menemui Junho dan membawakannya minuman atau pun handuk padanya. Tapi kebiasaannya itu sudah berhenti semenjak berita jadiannya Chansung dan Junho sebulan yang lalu tersebar di seluruh sekolah. Bagaimana tidak? Bukannya saat itu Chansung sendiri yang menembak Junho dengan tidak malunya dan sangat lantang di kelasnya, ah ya, karena pengaruh love note tentunya.
Chansung mengemut sumpitnya sambil menjawab tanpa pikir panjang. "Mmm... sebenarnya Junho memang memintaku putus kemarin lusa–"
"Jiijayo? !" seru So Eun cepat tanpa membiarkan Chansung melanjutkan ceritanya.
"Ndeh." Chansung mengangguk dengan wajah innocent-nya. Masih belum mengerti.
Seketika itu mata So Eun berbinar cerah. "Gomapta Chansung-shhi," ujarnya lebih lembut sambil tersenyum sumringah. "Lanjutkan makanmu dengan banyak yah, semoga kau sehat selalu," tambahnya lagi sok manis sambil meninggalkan kantin tersebut dengan raut wajah yang tampak sangat bahagia.
Chansung yang masih melongo, menatap kepergian So Eun sambil menggunakan otaknya untuk berpikir. Dan tiga detik kemudian, ia melotot terkejut. "Jangan-jangan..."
Emosi Chansung mendadak naik sampai ke ubun-ubun. Aura hitam merayap menyelimuti tubuhnya. Tanpa sadar, ia meremas sumpitnya terlalu keras, membuat sepasang batang kayu kecil itu, terbelah menjadi dua. "Tidak akan kubiarkan," desisnya penuh kebencian.
ChanHo
Setelah meminum setengah air dari botol itu. Eunhyuk melirik Junho yang lagi-lagi melanjutkan menatap langit-langit, menerawang. "Yach!" Eunhyuk mengetuk kening Junho, menyadarkannya. "Ada apa denganmu?"
Junho meringis sambil balas menatap kesal pada Eunhyuk. "Gwencana hyung. Gwencana."
Sementara Minho mengambil sisa botol minuman Eunhyuk dan ikut meminumnya hingga habis. "Kau tidak seperti biasanya hyung," sahut Minho kemudian.
"Maksudmu?" Junho mengernyit, masih berbaring di lantai sambil memandang Minho.
"Kau terlalu cepat lelah, dan konsentrasimu sering kacau."
"Minho-yah benar!" sahut Eunhyuk, kemudian menatap sinis pada Junho. "Kalau kau terus begini. Aku akan mengeluarkanmu dari 'Dream team' sekolah kita dan menggantikannya dengan Donghae!"
"Yach! Hyung!" protes Junho sambil menarik diri dan ikut duduk bersama mereka. "Kau tidak bisa seenaknya gitu. Lagipula Donghae hyung itu angkatanmu. Mana bisa mewakili kelas dua, seangkatanku," bela Junho cepat.
Eunhyuk tampak berpikir sesaat. "Kalau begitu, aku akan merengkrut Yoseob saja."
"Hyuung!" rengek Junho melemas.
"Kalau kau tidak mau makanya cepat kembalilah seperti semula!" omel Eunhyuk kesal.
Junho cemberut sambil mengangguk pelan. "Arraso."
"Oh ya hyung," sahut Minho. "Aku tidak pernah melihat Wooyoung hyung ke club kita lagi. Chansung hyung juga. Biasanya kan dia setia melihat latihanmu."
Junho mendengus kesal mendengar nama Chansung. Ia lalu kembali berbaring di atas lantai dengan lipatan kedua tangan sebagai bantalnya. "Sejak pacarnya sadar dari koma kemarin. Wooyoung akan langsung mengujungi rumah sakit setelah pulang sekolah." Junho menutup matanya. "Kalau Chansung..." Junho sendiri merasa lidahnya aneh karena tak menyebut 'Channie' lagi. "... mollayo. Aku juga tidak mau tahu tentangnya."
Minho dan Eunhyuk saling menatap dalam diam, lalu mengangguk, seolah mengerti apa inti masalah dari Junho.
KhunWooIU
Tubuhnya masih belum pulih sempurna sejak komanya dalam dua bulan, karena itu otot-ototnya tak bisa dipaksakan untuk bergerak secepatnya, apalagi hanya untuk menopang tubuhnya ketika berjalan.
Berbanding terbalik dengan IU yang selalu menampakkan wajah berbinar bahagia. Wooyoung malah berjalan sambil mendorong kursi roda IU dengan tatapan kosong, seolah pikirannya benar-benar blank saat itu.
"Oppa!" panggil IU dengan senyuman mengembang sambil menengadah kebelakang. Namun senyuman IU langsung lenyap ketika melihat wajah sendu Wooyoung yang tampak linglung.
"Ah! Ndeh?" Wooyoung tersentak, padahal IU memanggilnya tidak dengan cara mengagetkan.
IU kembali menatap ke depan, dan diam-diam menghela napas pelan yang tersirat akan rasa kecewa tanpa Wooyoung sadari. Niatnya yang ingin diambilkan sebuah bunga tulip kuning tak jauh dari mereka, lenyap seketika. Pandangannya pun berubah senduh.
"Waeyo chagiya?" tanya Wooyoung heran, menyadari mood IU yang berubah.
IU tersenyum lemah. "Aku punya sebuah cerita yang ingin kuberitahukan padamu oppa."
Wooyoung ikut tersenyum kecil, meski senyuman itu tak bisa selebar dulu lagi. "Katakan saja. Kau tahu sendiri 'kan? Kalau aku selalu senang dengan ceritamu," kata Wooyoung sambil terus mendorong pelan kursi roda IU, mengajaknya menelusuri taman tersebut. "Pasti sebuah kisah yang happy ending lagi," sambung Wooyoung dengan sedikit terkekeh riang.
Tapi IU menggeleng pelan. "Aniya oppa," kata IU. "Kisah ini sedikit berbeda dari biasanya. Karena cerita ini belum memiliki akhirnya. Entah itu happy ending atau sad ending," bisik IU lirih.
Wooyoung mulai merasa aneh dengan ucapan IU. Kenapa yeoja yang biasa selalu riang itu, kini terdengar begitu putus asa? Dan lagi, bukannya dulu dia paling benci dengan sebuah kisah yang sad ending dan selalu ngotot kalau setiap kisah seseorang di dunia ini pasti happy ending. Kenapa sekarang IU lebih terdengar... mau menerima keduanya?
"Kau tahu oppa? Selama aku tidur..." IU memulai dengan nada lemah seperti tadi. "...Aku banyak bermimpi."
"Mimpi apa?" tanya Wooyoung penasaran.
"Aku bermimpi, kalau aku bisa melihat semuanya. Tapi tak ada yang bisa melihatku."
Langkah Wooyoung terhenti. Firasatnya mendadak tidak enak. "Melihat... semuanya?" ulang Wooyoung sedikit ragu.
"Ndeh." IU mengangguk pelan dengan tatapan kosong ke depan. "Ini seperti kau bisa melihat semua di sekitarmu. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melihatmu. Kau bisa memandang mereka sepuasmu, tapi kau tidak pernah bisa menggapainya dan merasakannya. Kau selalu berada di antara mereka, tapi tidak ada yang menyadari keberadaanmu. Seolah kau selalu bersama mereka, tapi hanya kau seorang yang merasakan kesepian."
IU menunduk. "Rasanya... begitu menyedihkan," bisiknya lirih.
Wooyoung hendak menepuk bahu IU. Namun terhenti karena IU mendadak mendongak ke arahnya dengan wajah berbinar. "Tapi oppa. Rasa sedih itu langsung menghilang ketika aku bertemu dengan namja tampan yang senasib denganku."
"Mwo?" Wooyoung mengernyit heran.
IU kembali memandang ke depan sambil tersenyum senang. "Dia sangat tampan. Bahkan aku bersumpah, jika saja aku bertemu dengannya sebelum aku mengenalmu. Aku mungkin akan jatuh cinta padanya."
"Yach!" protes Wooyoung.
IU terkekeh kecil. "Kau juga mungkin akan jatuh cinta padanya oppa."
"Aissh!" Wooyoung mendengus kesal. "Berhentilah bercanda." dan ia kembali mendorong pelan kursi IU.
"Tapi aku serius oppa~" kata IU kemudian setelah menghentikan kekehannya. "Dia bahkan berkata akan mengabulkan seluruh permohonanku demi menebus kesalahannya."
"Kesalahannya?"
"Ndeh. Dia bilang ini semua gara-gara dia, makanya aku jadi seperti ini. Tapi aku sendiri masih belum mengerti maksudnya apa? Bahkan itu pertama kalinya aku bertemu namja itu," IU memiringkan kepalanya bingung.
Wooyoung mengangguk-ngangguk, meski sebenarnya ia juga tidak begitu mengerti."Lalu, kau meminta apa padanya?"
"Aku memintanya untuk mencarimu dan menjagamu dengan baik."
"Terus?" Wooyoung terus memancing. Meski sebenarnya ia tak begitu tertarik dengan cerita IU yang menurutnya memiliki imajinasi yang tinggi.
"Beberapa hari kemudian, dia menemuiku dan bilang sudah menemukanmu. Ah, tidak." IU menggeleng tiba-tiba. "Dia bilang kalau kau yang menemukannya. Bahkan namja itu bilang, kau bisa melihatnya dan mendengarnya, meski kau tak bisa melihatku sama sekali."
Langkah Wooyoung lagi-lagi berhenti seketika. Firasat tak enaknya kembali menyergap hatinya. "Aku...yang menemukannya?" Kenapa Wooyoung semakin curiga dengan cerita IU?
IU mengangguk tanpa menatap Wooyoung di belakangnya. "Kau bahkan menendangkan kaleng kosong ke kepalanya." IU terkekeh.
Sementara mata Wooyoung melebar tak percaya memandang IU.
"Semenjak saat itu. Dia selalu datang ke padaku dan menceritakan tentang dirimu oppa. Aku senang mendengar ceritanya, karena dari namja itu, aku tahu kalau kau masih bisa tersenyum senang dan tidak lagi terbebani oleh diriku. Aku merasa sangat legah."
Entah kenapa Wooyoung malah merasa sangat bersalah. Kedua tangannya terlepas dari pegangan kursi roda, dan tergantung lemah di kedua sisi tubuhnya. Perasaan menyesal yang begitu dalam lagi-lagi hinggap dalam beban punggungnya.
IU tersenyum senang sambil menerawang ke depan tanpa mengetahui wajah shock Wooyoung di belakangnya. Tapi tiga detik kemudian IU menghela nafas kesal sambil memasang wajah cemberut. "Tapi aku sempat dibuat kesal pada namja itu. Kau tahu tidak oppa? Meski sedikit ragu, dia akhirnya mengaku padaku kalau dia sudah menciummu lebih dari satu kali."
Wooyoung mengepalkan tangannya begitu kuat. Sangat kuat sehingga urat-urat dalam kepalan tangan itu menonjol seolah ingin keluar dari kulit putih tersebut.
IU menghela nafas kecewa. "Dan aku terpaksa memaafkannya. Karena sepertinya dia sudah jatuh cinta padamu," lirih IU.
Dada Wooyoung terasa begitu sesak, dan matanya mendadak mulai memanas. Ia merasa marah, sangat marah pada dirinya sendiri.
"Beberapa hari kemudian, ia datang lagi padaku, tapi dengan wajah yang sangat sedih," IU terus melanjutkan ceritanya tanpa mengetahui kondisi Wooyoung di belakangnya. "Dia berkali-kali minta maaf padaku, dan mengatakan semuanya akan berakhir. Karena kau sudah mengembalikan buku–"
"CUKUP!" seru Wooyoung. Tak sadar suaranya telah meninggi dan berhasil membentak IU.
Yeoja itu tersentak bukan main. Tubuhnya langsung bergetar dengan kedua tangan yang saling bertautan. Ini pertama kalinya Wooyoung membentak dirinya begitu keras. IU menunduk dengan rasa bersalah yang sangat mendalam. "Mi-mianhe..." suaranya terdengar serak dan lirih. Yeoja manis itu masih terlalu polos untuk diperlakukan kasar secara mendadak. "J-jeongmal mianhe oppa... hiks..." dan ia terisak kecil di balik rambut panjang yang jatuh di kedua sisi wajahya yang menunduk.
Rasa bersalah Wooyoung tak bisa lebih besar lagi dari ini. Ketika ia menyadari sudah menyakiti lebih dalam yeoja yang tampak begitu rapuh di hadapannya. "A-aniya..." suara Wooyoung juga ikut serak dan bergetar. "Bukan kau yang seharusnya minta maaf."
Wooyoung sedikit membungkuk, perlahan ia mengulurkan tangannya untuk merangkul leher IU dari belakang, dan membenamkan dahinya pada bahu IU. "Mianhe..." gumamnya. "Mianhe, mianhe, mianhe, m-mianhe..." suara Wooyoung semakin serak dan bergetar bersamaan dengan air penyesalan yang menetes di bahu IU.
"J-jeongmal mianhe. Ini semua... s-salahku." Wooyoung semakin mengeratkan rangkulannya pada tubuh hangat IU, dan IU membalasnya dengan menggenggam kedua tangan Wooyoung yang melingkari lehernya. Tapi isakan yeoja itu malah semakin menjadi. Lebih keras dan terdengar sangat menyedihkan dengan rasa sakit mendalam di hatinya.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi chagiya..." bisik Wooyoung lirih. "...aku janji," ucapnya di sela tangis kecilnya.
Sepoi angin yang melewati pepohonan di taman itu, sedikit menerpa Wooyoung dan IU. Mengiringi tangis kecil di antara mereka berdua.
TaecMin
"Temanmu?" Minjun mengernyit heran. "Kenapa tiba-tiba?"
Taecyeon tersenyum. "Nanti akan kuceritakan padamu."
Tapi Minjun semakin mengernyit, menatap tajam penuh kecurigaan pada Taecyeon. Kenapa sikap Taecyeon seolah menyembunyikan sesuatu darinya.
Taecyeon menghela nafas. "Percayalah padaku chagiya~ dia hanya temanku. Arraso?"
Tapi Minjun masih kesal dengan sikap Taecyeon. "Terserah padamu." ia lalu berbalik hendak memasuki lift yang sudah terbuka. Tapi lagi-lagi ia terhenti, karena tarikan mendadak dari Taecyeon di lengannya. Membalik paksa tubuhnya kembali berhadapan dengan Taecyeon dan sebuah bonus ciuman tiba-tiba mendarat di bibir Minjun.
Meski tidak lama seperti ciuman mereka biasanya. Tapi tetap saja itu selalu bisa membuat jantung Minjun berdegup kencang, dengan wajah yang memerah setelah ciuman singkat itu berakhir.
Taecyeon menyeringai nakal di hadapan Minjun yang merona hebat. "Jangan sering marah padaku chagiya~ Itu malah membuatku tak tahan untuk mencium wajah cutemu," bisiknya dengan sedikit mendesah di telinga Minjun, bermaksud menggodanya. Dan Taecyeon mengemut sisi pertengahan leher Minjun sekilas, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Minjun yang membeku di tempatnya.
Sepertinya Minjun benar-benar harus kuat berhadapan dengan Ok Taecyeon, mantan sahabatnya yang sudah berubah drastis memperlakukannya lebih lembut, bahkan sangaaaat lembut sehingga membuat Minjun merinding sendiri dan patut memasang rambu waspada jika mereka hanya berdua saja.
Minjun menghela nafas. Tapi meski begitu, Kim Minjun tetap menyukainya. Bahkan ia sudah terlanjur sangat mencintainya. Tangannya memegang pertengahan leher bekas emutan kekasihnya tadi, dan Minjun hanya bisa tersenyum malu sekaligus geli sendiri.
.
.
.
.
Taecyeon menatap kasihan pada pasien yang terbaring koma di depannya. Namja berwarga Thailand dengan tag nama pasien 'Nichkhun Buckh Horvejkul' berbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai peralatan rumah sakit yang terhubung padanya.
Taecyeon menghela nafas pelan. "Cepatlah bangun Nichk," gumamnya pelan.
"Ini sudah dua bulan lebih lamanya..." lanjutnya lagi. "...yeoja yang kau tabrak itu, bahkan sudah bangun sejak dua hari yang lalu. Jadi kapan kau juga akan terbangun?"
Tak peduli tidak ada yang menanggapinya, Taecyeon kembali melanjutkan ucapannya yang semakin lirih. "Jangan terlalu lama Nichk..."
"...kalau kau terlalu lama istirahat di sini..."
Taecyeon mengepal tangannya kuat.
"...para dokter di sini akan menyerah padamu..." Taecyeon menggigit bibirnya.
"Jadi Cepatlah bangun! Hurry! Atau mereka akan melepaskan semua alat bantu ini!" bentak Taecyeon kesal, namun tersirat akan rasa khawatir yang sangat mendalam pada teman sejak kecilnya itu.
Hanya suara denyut nadi begitu lemah yang terdengar dari mesin kotak kecil di kamar tersebut yang membalas seruan Taecyeon seorang diri.
ChanHo
"Jijjayo?" sahut Junho sambil menarik-narik lengannya ke samping, merenggangkan otot-otot tangannya. "Aku tidak tahu hyung. Soalnya kemarin aku tidak masuk."
Eunhyuk menghela nafas. "Sampai kapan kau terus bersedih dalam kesendirianmu, hah? Seharusnya kau juga ikut senang melihat orang terdekatmu mendapatkan kebahagian. Taecyeon dan Minjun, lalu Wooyoung dan yeojachingu-nya yang kau bilang tadi," omel Eunhyuk sok tahu.
Junho mengangguk-ngangguk paham. "Arraso hyung. Aku juga turut bahagia kok melihat hyung berciuman dengan Donghae di toilet tadi."
"YACH!" Wajah Eunnyuk memerah, ia nyaris berhasil menggeplak kepala Junho. Tapi Junho lebih cepat untuk menghindar dan bersembunyi di balik badan Minho yang lebih tinggi darinya. Junho nyengir mengejek pada Eunhyuk dari balik bahu Minho. Sementara Minho sendiri pucat pasi dijadikan tameng oleh hyung-nya.
"Aissh...Jijja!" Eunhyuk mengambil sepatunya. Hendak melemparkannya pada Junho. Entah nanti lemparannya tepat sasaran, atau malah mendarat mengenai wajah Minho, Eunhyuk seolah tak peduli.
Tapi pintu ruangan club terbuka. Berhasil mengurungkan niat Eunhyuk, menarik perhatian Junho, dan membuat Minho bisa bernafas legah.
Yunho, ketua klub dance terbaru, memasuki ruangan tersebut dengan senyuman lebar. Sementara Jaebeom, wakilnya, mengikutinya dari belakang dengan headset yang terpasang di telinganya, berjalan dengan tak acuh pada sekelilingnya.
"Guys, mohon perhatiannya sebentar," sapanya sambil melambai pada anggota-anggota club yang sedang berlatih dalam ruangan. Yunho tersenyum sumringah setelah mendapatkan perhatian dari seluruh anggota.
"Ada berita baik hari ini. Kita mendapatkan anggota baru." Yunho menoleh ke arah pintu, memberi isarat agar namja tinggi di luar sana segera masuk.
Junho hanya bisa menganga dengan mata melebar begitu melihat sosok Chansung yang melewati pintu itu dan berdiri di samping Yunho.
"Yup. Ini dia. Hwang Chansung dari tingkatan kedua," jelas Yunho. "Dia bahkan rela melepaskan jabatan ketua club taekwondo untuk bisa masuk ke club ini. Jadi, mohon kalian bisa membantunya. Arraso? Ah! Dia juga punya bakat dance kok."
Nyaris semua anggota bertepuk tangan menyambut Chansung. Tapi tidak untuk Junho. Ia membeku di tempatnya begitu sadar tatapan Chansung terarah padanya. Begitu tajam dan menusuk seolah bisa menguliti Junho hidup-hidup.
Junho menelan ludah pahit. Padahal dia sudah berusaha untuk menghindari Chansung semenjak permintaan putusnya lewat sms-nya pada Chansung tempo hari yang lalu. Semuanya terasa nyaris baik-baik saja sampai sekarang. Tapi kenapa namja itu malah datang sendiri ke padanya? Atau Junho hanya merasa terlalu percaya diri mengira Chansung bergabung di club karena dirinya. Bisa jadi ini karena Wooyoung, bukannya Wooyoung juga berada di club dance.
Eunhyuk merangkul bahu Junho. "Jangan terlalu tegang begitu," bisiknya pelan di telinga Junho. Membuyarkan lamunan dan segala pikiran keras Junho, sekaligus berhasil merilekskan tubuhnya yang sejak tadi membeku di tempat.
Junho menghela nafas lega. "Gomawo hyung."
Eunhyuk hanya nyengir pada dongsaeng-nya tanpa melepaskan rangkulannya. Tak sadar akan tatapan membunuh dari Chansung melihat kedekatan mereka.
Lagi-lagi Junho mendengus kesal dalam hati melihat gabungnya Chansung dalam klub mereka. 'Aigoo... Ottoke?' batinnya putus asa.
.
.
.
.
To be continue






0 komentar:
Posting Komentar