Love Note
Chapter 2 / 9
This is Fan-Ficsi from Sayaka Dini
With cast:: Member of 2PM
Jang Wooyoung (17thn)
Nichkhun (18thn)
Lee Junho (17thn)
Hwang Chansung (17thn)
Kim Minjun (18thn)
Ok Taecyeon (18thn)
Untuk beberapa saat Wooyoung terpaku di tempatnya dan tak bisa bergerak. Tapi setelah ia sadar sepenuhnya. Ia segera mendorong bahu Nichkhun dengan sekuat tenaga sampai namja itu terjatuh ke belakang dan terduduk di lantai.
"M-mesum!" seru Wooyoung dengan wajah memerah, dengan terburu-buru ia menghapus pipi kirinya sambil merinding sendiri. Nichkhun yang melihat tingkah laku Wooyoung yang tampak cute itu tertawa, membuat Wooyoung semakin kesal karena ditertawakan.
"Yach! Apa yang kau tertawakan? Dasar mesum!" Wooyoung mengambil komik dari lemari buku yang berada di sampingnya, dan langsung melemparnya kea rah Nichkhun.
"Auh, Appo!" keluh Nichkhun mengelus bahunya.
"Rasakan itu! Dasar mesum!" dan Wooyoung kembali melemparkan komik yang lain.
"Yach! Yach! Hentikan! Appo!"
Suara ketukan pintu beserta teriakan nuuna-nya dari luar menghentikan kegiatan Wooyoung. "Yach! Uyongie! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau ribut sekali?" dan pintu itu terbuka dari luar. Kepala yeoja itu menyembul masuk dan melihat kamar Wooyoung yang agak berantakan dengan beberapa komik yang bertebaran di lantai.
"Nuuna! Lihat!" Wooyoung menunjuk ke tempat di mana tadi adanya Nichkhun. "Ada stalker di kamar–" tapi Nichkhun sudah tak ada di sana. Wooyoung kebingungan, matanya lalu beralih pada jendela kamar yang terbuka lebar dengan gorden melambai-lambai. "Sial, cepat sekali kaburnya."
"Siapa?" Nuuna-nya Wooyoung ikut bingung.
"Ani." Wooyoung menggeleng. "Bukan siapa-siapa."
Yeoja yang tiga tahun lebih tua dari Wooyoung itu, mendesah. "Ya sudah, cepatlah tidur. Ini sudah sangat malam."
"Ah, ndeh nuuna."
"Oh ya, jangan lupa bersihkan kamarmu dulu."
"Arraso."
.
.
.
Author
Sayaka Dini
.
.
.
Present
.
.
.
Fanfic of 2pm
"Love Note"
Chapter 2
Fantasy / Romance
Boy x boy
Pairing::
Nichkhun x Wooyoung
Chansung x Junho
Taecyeon x Minjun.
.
.
.
Disclamer : Seluruh cast milik dirinya sendiri
Fanfic ini milik Sayaka Dini sendiri
^^Hope you enjoy my fanfic^^
.
.
.
...
_Ultra_Lover_
Kang_in: Annyeonghaseyo Ang_ang-sshi... pertama kali aku menemukan blogmu ini, aku langsung bersemagat dengan apa yang kau tulis. Terlihat lucu awalnya karena kau menjanjikan kebahagian pada siapa saja yang mau berbagai cerita padamu dan meminta bantuanmu. Seolah-olah kau mempunyai tongkat sihir yang bisa berbuat apa saja dengan sekali ayunan, tring. Terlalu muluk memang. Tapi aku ingin mencobanya. Karena aku sendiri sudah pusing dengan kisah asmara yang ku punya. Kuharap kau benar-benar bisa membantuku. Seperti apa yang kau janjikan.
"Kau dengar siaran Sukira semalam tidak?" suara para yeoja yang sedang berkumpul itu terdengar sampai ke telinga Wooyoung yang sedang tidak jauh duduk dari tempat itu.
"Aku dengar. Aigoo, aku gak nyangka lho kalau penyiar favorite-ku itu udah memiliki namjachingu,"
"Jijjayo? Aku tidak tahu karena semalam aku tidak mendengarnya."
"Semalam itu Leetuk oppa ngumumin hubungannya dengan seorang namja, tapi dia tidak mau bilang namanya karena tak ingin namjachingu terganggu."
"Daebak. Dia berani ngumuminnya? Wah, fansgirlnya pasti banyak yang kecewa."
"Tidak semuanya kok. Malah ada yang mendukungnya dan salut karena dia berani ngumumin status hubungannya."
Dan obrolan itu semakin melanjut, menemani makan siang mereka di kantin tersebut. Sedangkan Wooyoung yang tak jauh duduk di bangku kantin lain, hanya tersenyum sambil menikmati es krim mangkuknya. Ia senang karena berhasil membantu namja dengan nickname Kang_in, yang kemarin sudah bercerita padanay lewat PM di blognya. Benar, Kang_in itulah namjachingu Leetuk, si penyiar radio terkenal itu.
Masalahnya cukup sederhana. Kang_in merasa tidak dihargai sebagai namjachingunya, karena Leetuk selalu mengaku single pada hal layak. Itu membuat Kang_in kesal, dan mereka sempat bertengkar hebat hanya karena masalah stastus yang terus ingin dirahasiakan Leetuk demi karirnya. Kang_in bahkan sempat berpikir kalau Leetuk mungkin saja menduakannya. Dia pun meminta bantuan di blog Ultra Lover setelah mencantumkan nama aslinya dan Leetuk, tentu saja lewat PM agar privasinya tetap terjaga.
Dan malam itu, Wooyoung tinggal menuliskan sesuatu di Love note yang ia klaim sebagai miliknya sendiri.
'Park Jungsoo tidak pernah malu untuk mengakui kalau dia sangat mencintai Kim Youngwoon.'
Tak lama kemudian, Sukira gempar karena pengakuan Leetuk secara langsung dalam acara radionya malam itu.
"Yach! Wooyoungie." Seseorang menyapanya sambil menepuk bahunya dan duduk di sampingnya.
Wooyoung menoleh dan senyumannya semakin lebar melihat namja bermata panda itu. "Hyuuung~" rajuknya, membuat kakak kelasnya itu tertawa.
"Aigoo Wooyoungie, berapa umurmu dan kau masih memakan eskrim dengan cara belepotan seperti itu." Minjun segera mengambil tisu dan menlap eskrim coklat yang menghiasi bibir dan dagu Wooyoung.
"Ck ck, coba lihat pemandangan di sini," sebuah suara menyelutuk bersamaan dengan datangnya Taecyeon dan duduk di depan mereka. "Seorang 'umma' yang selalu mengkhawatirkan baby-nya," lanjutnya dengan nada candaan beserta senyuman lebarnya.
Minjun menoleh dan menngernyit heran. "Yach! Kenapa kau mengikutiku? Ku kira kau ada janjian dengan Yoona."
"Kau mengusirku?" tanya balik Taecyeon dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
"Ani. Aku hanya–" suara Minjun terhenti karena adanya dering bunyi dari ponsel Taecyeon.
"Ah, ini dari Yoona. Kalau begitu aku pergi dulu yah." dan namja itu segera melompat dari bangku, pergi meninggalkan keduanya dengan senyuman lebar di wajahnya.
Minjun mendesah seraya melihat kepergian Taecyeon.
"Hyung," panggil Wooyoung mengalihkan perhatian Minjun. "Apa Taecyeon hyung sudah jadian dengan Yoona?"
"Belum. Taecyeon memang gencar mengejar Yoona, dan yeoja itu seperti memberikan harapan. Tapi..." Minjun berhenti sejenak untuk menghela nafas. "Tak jarang juga Yoona kedapetan jalan dengan namja lain, seperti Yesung dan Seunggi. Aissh... kadang aku kasihan juga melihat Taecyon mau dibodohi seperti itu."
Wooyoung hanya manggut-manggut sambil kembali memakan eskrimnya. "Aku mungkin bisa membantunya," gumamnya yang langsung mendapatkan jitakkan dari Minjun. "Ah Appo! Waeyo hyung?"
"Sudah cukup kau mencampuri urusan orang lain. Sebaiknya cepat kembalikan buku aneh itu," pintanya.
Yah, memang benar Minjun sudah tahu semua tentang Love note dan blog Ultra Love yang baru dibuat Wooyoung sejak tiga hari yang lalu. Wooyoung sendiri yang menceritakan hal itu pada Minjun. Sampai saat ini, hanya Minjun dan Junho yang mengetahui rahasia kecil Wooyoung itu. Ah, jangan lupa juga dengan Nichkhun, namja aneh yang Wooyoung sendiri tak tahu asal-usulnya.
"Kenapa harus dikembalikan? Buku itu sudah sah jadi milikku kok," Wooyoung ngotot dan merasa tak terima.
"Kau tidak boleh terus-terusan memainkan perasaan orang lain. Kau ini masih sangat kekanankan Wooyoungie."
"Aku tidak pernah main-main dengan perasaan orang, aku hanya membantu mereka. Dan jangan pernah mengataiku kekanakan. Hyung jadi sama menyebalkannya dengan namja itu." Wooyoung menunjuk kursi kosong di sampingnya.
Minjun mengernyit. "Nugu? (siapa?)" tanyanya bingung.
Wooyoung juga ikutan bingung mendapati kursi itu sudah kosong. "Tadi dia tidur di sini. Kemana perginya?" ia melongo ke segalah arah untuk mencari keberadaan Nichkhun. Tapi kemudian ia terhenyak. 'Kenapa aku malah mencarinya? Sudah bagus dia tidak mengikutiku lagi,' pikirnya senang.
"Sudahlah. Lupakan saja hyung," kata Wooyoung tak acuh.
TaecMin
Bunyi lonceng cafe Bonamana mengiringi langkah Wooyoung ketika ia membuka pintu masuknya. Berjalan ke arah counter, di mana ada namja berpipi chabi yang berdiri di balik meja panjang itu.
"Annyeonghaseyo Hyung,"
"Ah, Wooyoungie," namja itu tersenyum dengan wajah berbinar pada pelanggannya satu ini.
Wooyoung ikut tersenyum. "Kenapa hari ini kau terlihat sangat bahagia, Kangin hyung?" tanyanya pura-pura tak tahu.
"Apa benar wajahku mudah di tebak seperti itu?" tanyanya balik sambil memegang pipinya yang secara samar mereona.
"Hm," Wooyoung mengangguk.
"Ehm," dan Kangin mencoba membenarkan posisinya, memasang kembali wajah ramah unruk costumer cafenya. "Jadi kau ingin memesang apa, Wooyoung-sshi?" tanyanya lembut.
Wooyoung terkekeh melihat perubahan pada Kangin. "Seperti biasa, hyung. Antarkan ke meja favorite ku."
"Oke," Kangin membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya. Lalu ia berbalik sambil berseru,
"Wookie! Ice cream Rainbow di meja nomor sembilan."
Wooyoung pun berjalan ke meja nomor sembilan, meja yang berada paling sudut di cafe Bonamana, dekat dengan jendela luar di mana ia bisa menikmati sore hari ini dengan melihat pemandangan di luar. Mengeluarkan laptopnya dari dalam tas, ia mulai menikmati layanan Wifi yang juga tersedia dalam cafe tersebut.
Tak lama kemudian pesanannya datang, diantarkan oleh salah satu pegawai cafe dengan nama tag 'Ryewook'. Namja imut itu hanya tersenyum dan mempersilahkannya lalu pergi membiarkan pelanggannya itu menikmati kegiatannya.
"Kau tidak memesankan secangkir cappucino untukku?" sebuah suara menyeletuk tiba-tiba, membuat Wooyoung nyaris tersedak eskrimnya sendiri.
Ia menengadah, dan mendapati Nichkhun yang sudah duduk di depannya sambil tersenyum bodoh (menurutnya). Wooyoung melotot terkejut, sementara Nichkhun dengan santainya malah memperhatikan mulut Wooyoung yang lagi-lagi belepotan dengan eskrim.
"Aissh. Benar kata hyungmu tadi, kau kalau makan eskrim selalu belepotan. Seperti anak-anak." Nichkhun mengambil tissue di tengah meja, dan mengusapnya perlahan di sekitar mulut Wooyoung. Persis dengan apa yang biasa Minjun lakukan padanya. Tapi kali ini Wooyoung merasa adanya perbedaaan di sini.
Kalau itu Minjun, Wooyoung hanya akan tersenyum senang dan malah meminta Minjun dengan manja untuk membersihkan sudut lain wajahnya. Tapi kali ini, ia bahkan seolah lupa bagaimana cara mengedipkan mata. Tubuhnya membeku seketika dengan jantung yang berdegub kencang. Matanya tak bisa lepas dari setiap gerakan lembut Nichkhun yang menyapu sudut bibirnya dan dagunya. Ia bahkan merasa kalau sosok tampan di depannya ini seperti malaikat.
"Nah, selesai. Pelan-pelan lah sedikit kalau makan eskrim." Nichkhun menarik kembali tangannya dan melipatnya di atas meja, memandang Wooyoung dengan lekat. "Ternyata kau benar-benar pecinta eskrim ya? Padahal tadi siang kau sudah makan eskrim di sekolah, sekarang pulang sekolah kau makan eskrim lagi. Apa perutmu tidak terasa sakit?"
Wooyoung mengerjap. Ia akhirnya kembali ke alamnya sendiri. Dengan gelagapan, ia malah balik bertanya,
"K-kenapa kau terus mengikutiku?"
Nichkhun menghela nafas. "Kan sudah kubilang dari awal. Aku akan terus mengikutimu sampai kau mau mengembalikan Love Note padaku."
"Aku tidak akan mengembalikannya."
"Kalau begitu aku juga tidak akan meninggalkanmu."
"Yach!"
Dan Nichkhun tertawa melihat wajah panik Wooyoung yang tampak lucu di matanya.
"Kenapa kau tidak mencari pekerjaan lain saja?" tanya Wooyoung kemudian.
"Satu-satunya pekerjaan yang kupunya adalah dengan buku yang kau pinjam itu."
Wooyoung tampak berpikir. Sebenarnya ia memiliki banyak pertanyaan mengenai Love Note itu, seperti, "Kau mendapatkan Love Note ini dari mana?"
Nichkhun menatap Wooyoung, antara ragu dan tidak untuk menjawabnya. Tapi kemudian ia tersenyum misterius, "Itu rahasia."
Dan Wooyoung mendesah. "Hanya untuk mengingatkanmu sekali lagi, Nichkhun-sshi, aku–"
"Panggil aku hyung," potong Nichkhun.
Tapi Wooyoung mengabaikannya. "–aku yang menemukan Love Note ini di jalan. Jadi otomatis Love Note ini menjadi milikku." klaimnya lagi.
"Ooh... jadi benda apapun yang kau temukan di jalan itu akan menjadi milikmu?"
"Benar."
"Kalau begitu, kau juga menjadi milikku karena aku menemukanmu di jalan."
"Yach! Itu beda perkara!" protes Wooyoung.
Nichkhun terkekeh. Namja baby face itu kemudian menyangga wajahnya di atas meja dengan kedua tangannya. Menatap wajah Wooyoung dengan lekat. "Aissh... kau begitu manis... aku jadi tidak tahan ingin menciummu."
Blussh!
"J-j-jangan lakukan itu lagi," Wooyoung panik dengan wajah memerah. "Berhentilah menggodaku."
"Kalau begitu berhentilah memasang wajah manis," balasnya sambil tersenyum. Namja satu ini memang pandai sekali membalikkan kata-kata.
"Yach! Yach! A-aku masih normal!"
"Apa hubungannya?"
"Aku memiliki yeoja yang kusukai."
"Kalau begitu aku akan menunggumu."
Wooyoung bungkam. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran namja di depannya itu. Apa dia serius dengan kata-katanya, atau dia hanya main-main? Mungkin saja dia sengaja menggodanya dan membuatnya jadi tidak nyaman sampai Wooyoung menyerah dan memberikan Love note itu kembali padany. Yah, mungkin saja begitu.
"Aku serius," celetuk Nichkhun lagi dengan tampang polosnya menatap Wooyoung lekat.
Wooyoung gelagapan. Entah kenapa ia jadi salting sendiri. "Terserah kau saja," ucapnya sambil lalu. Ia pun kembali menyibukkan diri dengan laptopnya yang sejak tadi hampir terlupakan.
Sementara itu, di meja counter cafe Bonamana. Ryewook terus memandang aneh pada meja yang di tempati Wooyoung. "Apa benar dia tidak apa-apa, hyung? Dari tadi ia berbicara sendiri."
Kangin menepuk puncak kepala Ryewook. "Sudahlah Wookie. Biarkan saja. Kita tidak boleh mengganggu privasi pelanggan. Arraso?"
"Ndeh, hyung."
Dan Kangin hanya menatap kasihan pada Wooyoung yang duduk sendirian di meja sana dalam penglihatannya.
.
.
.
.
"Main-main dengan perasaan orang lain itu sangatlah buruk," celetuk Nichkhun di sela-sela kegiatan Wooyoung pada laptopnya.
Wooyoung menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Nichkhun dengan pandangan heran. "Sebenarnya kau punya hubungan apa dengan Minjun hyung? Sampai-sampai ucapan kalian itu nyaris selalu sama."
Nichkhun menggeleng sambil mengangkat bahu. "Aku tidak mengenalinya," akunya. "Aku berbicara secara realitis saja. Sejak kuperhatikan, kau menulis dengan sesuka hatimu nama orang-orang yang kau bahkan tidak mengenalinya dalam Love Note itu. Hanya berdasarkan cerita seseorang dan dari sudut pandang satu orang saja, kau langsung percaya kalau pasangan itu akan bahagia?" raut wajah Nichkhun kini tampak lebih serius.
"Apa bedanya dengan dirimu? Aku melihat banyak tulisanmu sebelum adanya tulisanku di dalam buku ini."
Nichkhun mendesah dengan kekeras kepala yang dimiliki namja di hadapannya itu. "Cara menulisku berbeda dengan dirimu."
"Iya, iya, aku tahu. Tulisanmu lebih bagus dariku." sindir Wooyoung.
"Bukan begitu maksudku!" suara Nichkhun sedikit lebih tinggi sekarang. "Aku selalu berhati-hati jika ingin menulis nama sepasang kekasih dalam Love note. Tidak sama dengan dirimu. Kalau aku harus mencari tahu lebih dulu, apakah mereka benar-benar akan bahagia jika terus bersama? Apa tidak ada hati lain yang tersakiti jika mereka bersama? Apa benar mereka itu cocok satu sama lain? Meski buku itu memang memiliki kekuatan magic, tapi tidak semuanya bisa diubah dengan benda itu! Kenapa kau tidak berpikir lebih matang dulu sebelum menggunakan Love note? Berhentilah bersikap kekanakan."
Wooyoung terdiam sambil menatap Nichkhun dengan tajam. Emosinya mendadak meluap. "Kau pikir dirimu siapa? Hah!" Wooyoung berdiri, menutup laptopnya dan segera memasukkannya kembali dalam tasnya. "Jangan pernah mengataiku kekanakan," katanya tajam. "Dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi! Kau sungguh menyebalkan." Wooyoung pun berlalu meninggalkan Nichkhun.
Nichkhun mendesah. "Dia tidak bisa dikerasi," gumamnya putus asa.
Wooyoung bahkan meninggalkan cafe itu tanpa menyapa Kangin.
"Eh-eh?" Ryewook menunjuk panik pada Wooyoung yang berjalan tergesa-gesa keluar cafe. "Hyung! Dia pergi tanpa membayar!" tunjuknya sambil menoleh pada Kangin.
"Tidak apa-apa Wookie. Nanti biar nuuna-nya yang kutagih. Biasanya juga gitu," jawab Kangin santai.
"Mwo?" Ryewook semakin bingung.
Kangin menuliskan sesuatu di catatannya sambil berucap. "Dia itu tetanggaku."
"Ooh.."
KhunYoung
Wooyoung menghela nafas. Entah kenapa kali ini dia tidak bisa kosentrasi mengerjakan PR matematikanya. Kadang ia melupakan rumusnya, terkadang otaknya buntu, atau ia salah hitung dan kurang teliti sehingga jawaban yang ia temukan selalu menjadi bilangan desimal berkali lipat, yang sudah pasti bukan itu jawaban yang tepat.
Wooyoung mengerang frustasi sambil mengacak rambutnya. "Akkhh! Baiklah, aku menyerah!" ia lalu menutup bukunya. "Biar kucocokkan dengan jawaban Junho saja besok," gumamnya pada dirinya sendiri.
Namja chubby itu pun mengambil laptopnya, dan berniat membuka blog Ultra Lover miliknya. Semakin hari pengunjungnya pun semakin banyak, membuat Wooyoung tersenyum senang. Apalagi, dengan berbagai komentar yang saling sahut menyahut tentang beberapa orang yang sudah dibantu oleh Wooyoung. Mereka tampak bahagia dengan komentar yang mereka tulis.
Tiba-tiba ia teringat kembali ucapan Nichkhun padanya tadi sore. 'Hanya berdasarkan cerita seseorang dan dari sudut pandang satu orang saja, kau langsung percaya kalau pasangan itu akan bahagia?'
Wooyoung tampak berpikir, tapi kemudian ia langsung menggeleng keras. "Tidak, tidak. Aku tidak boleh termakan oleh ucapannya."
Wooyoung kembali fokus pada blognya. Membuka sebuah PM baru yang masuk. Dan alangkah terkejut ketika ia tahu nickname dari pengirim email tersebut. Ok_Cat.
'Sudah jelas itu adalah Taecyeon hyung.'
TaecMin
Keesokan harinya. Sekolah Wooyoung gempar dengan berita baru yang menghebohkan.
"Kau sudah mendengarnya?" seperti biasa, perkumpulan yeoja selalu cepat mendapatkan informasi baru. Apalagi jika itu mengenai gosip di sekeliling mereka.
"Aku sudah dengar," sahut yeoja yang satunya. "Tentang Yoona yang resmi jadian dengan Taecyeon oppa kan?"
"Benar. Padahal kupikir Yoona sudah bertunangan dengan Seunggi oppa, iya kan?"
"Aish, firasatku merasakan hal buruk," gumam yeoja berkacamata itu sambil mengelus tengkuknya.
"Yach! Apa yang kalian lakukan di sini?" tiba-tiba yeoja lain datang menghampiri mereka. "Kudengar Taecyeon oppa dan Seunggi oppa berkelahi di tempat parkiran sekolah sekarang!"
"Jijjayo? Aissh.. ottoke?" mereka tampak panik. "Kajja, kita lihat ke sana." dan empat yeoja itu buru-buru meninggalkan kelas.
Wooyoung yang baru saja masuk ke kelas, sempat mendengar obrolan mereka dengan tampang terkejut. Dengan terburu-buru ia melempar tas ranselnya dan ikut berlari keluar.
Tapi di tengah perjalanannya di koridor, seseorang menarik lengannya, membuatnya berhenti. Wooyoung menoleh, mendapati Minjun menatapnya tajam dengan mata merah yang membengkak.
"Wooyoungie, jebal..." suaranya terdengar serak. "Jebal... hiks," air mata Minjun menetes di pipinya. "...bubarkan Ultra Love dan hancurkan Love note itu..." pintanya serak.
Dan saat itu juga Wooyoung menyadari. Bahwa hyung tersayangnya, Kim Minju, sebenarnya lebih mencintai Ok Taecyeon sejak lama.
Kali ini, Jang Wooyoung benar-benar melakukan kesalahan besar. Mungkin saja satu pasangan akan bahagia, tapi banyak hati yang juga tersakiti.
.
.
.






0 komentar:
Posting Komentar