Love Note chapter 5

Love Note

Chapter 5 / 9

This is Fan-Ficsi from Sayaka Dini

With cast:: Member of 2PM

Jang Wooyoung (17thn)

Nichkhun (18thn)

Lee Junho (17thn)

 

Hwang Chansung (17thn)

Kim Minjun (18thn)

 

Ok Taecyeon (18thn)

 


"Oppa!" panggil Yoona. "Kau tidak bermaksud untuk membatalkan janji kita, 'kan?" harapnya.

"Mianhe chagiya," Taecyeon melepaskan rangkulan Yoona pada lengannya. "Minjun lebih membutuhkanku sekarang."

Yoona sempat menganga mendengarnya. "Tapi sekarang aku juga sangat membutuhkanmu Oppa!" rengeknya. "Orangtuaku sudah menunggu kita di sana."

"Tapi masalah Minjun lebih penting sekarang. Ayahnya kecelakaan, dan sendirian di–"

"Lebih penting aku atau dia? !" potong Yoona kesal.

Taecyeon tertegun. Tak bisa menjawab.

"Oppa~" suara Yoona kembali melembut dan meraih tangan Taecyeon sambil memberikan tatapan memelas. "Kumohon. Kau harus menemui orang tuaku dulu, kalau tidak. Mereka tidak akan percaya dengan hubungan kita. Biarkan saja Minjun Oppa, temannya 'kan bukan hanya kau saja? Wooyoung juga temannya yang bisa membantunya."

Taecyeon nyaris saja luluh dengan rayuannya Yoona. Tapi kemudian suara serak Minjun yang beberapa detik lalu ia dengar dari ponselnya, kembali berputar dalam pikirannya. 'Jebal Taecyeon-ah… antarkan aku…'. Dan Taecyeon bisa membayangkan Minjun sendirian di terminal bis dengan wajah kebingungan dan panik, ditambah dengan mata yang merah karena mengkhawatirkan ayahnya.

"M-mianhe Yoona," Taecyeon melepas genggaman Yoona. "Jeongmal, mianhe," dan ia langsung berlari keluar, meninggalkan Yoona yang terpaku di tempat.

Dan yeoja kurus itu menghentakkan kakinya kesal sambil berteriak. "Oppa!"

Namun Taecyeon di luar sana yang baru memasuki mobilnya, tidak mempedulikan teriakan itu. Wajahnya tampak serius menjalankan mobil keluar garasi rumah, ia bahkan tidak menoleh hanya untuk memastikan apakah Yoona tidak berlari mengejarnya di belakang mobil.


.
.
.
Author

Sayaka Dini
.
.
.
Present
.
.
.
Fanfic of 2pm
"Love Note"

Chapter 5

Fantasy / Romance

Boy x boy

Pairing::

Nichkhun x Wooyoung
Chansung x Junho
Taecyeon x Minjun.

.
.
.
Disclamer : Seluruh cast milik dirinya sendiri

Fanfic ini milik Sayaka Dini sendiri

^^Hope you enjoy my fanfic^^
.
.
.
...



KhunYoung





Wooyoung terus menatap Nichkhun di sebelahnya dengan pandangan sendu. Meski Nichkhun belum menceritakan detailnya, tapi pancaran matanya sudah menyiratkan rasa perih yang ia rasakan.

Nichkhun menghela nafas pelan. Pandangannya lurus ke depan, menerawang. "Sama seperti hyungmu," ia memulai dengan suara pelan. "Orangtuaku juga berpisah semenjak aku kecil. Hak asuh kedua adik perempuanku diambil ibuku dan menetap di Thailand. Sementara diriku dan hyungku dibawa oleh ayahku dan tinggal di Amerika."

Nichkhun sedikit tersenyum, yang lebih pantas disebut dengan senyuman miris. "Mungkin karena aku merindukan sosok ibu, aku jadi jatuh cinta dengan yeoja yang enam tahun lebih tua dariku. Dan dia adalah guruku sendiri waktu itu. Awalnya semua terasa bahagia bagiku. Tapi semenjak aku mengenalkannya pada ayahku, dia mulai berubah. Tidak jarang ia menolak ajakan kencanku dan lebih memilih menemuiku di rumahku sendiri. Dan puncak dari semua itu adalah, ketika aku mendapatinya berciuman dengan ayahku di ruang tamuku saat aku pulang sekolah."

Nichkhun menahan nafas, mendongak ke atas dan mengerjapkan matanya. Seolah sedang menahan air mata yang hendak keluar. Kenapa? Padahal sudah lama ia pendam kisah ini. Tapi ternyata sakitnya masih terasa ketika ia kembali mengungkitnya sendiri. Nichkhun lalu menunduk, tak sadar tangannya mengepal kuat. "Semenjak saat itu aku ingin segera kabur dari rumah itu, rasanya aku ingin sekali melarikan diriku jauh dari wilayah itu. Yang membuat aku sakit bukan hanya karena wanita itu. Tapi ayahku, orang yang selama ini kuhormati, mengecewakanku lebih dalam, terlebih lagi saat aku tahu penyebab pisahnya kedua orang tuaku karena ayahku adalah pria hidung belang."

Namja itu mendesah pelan, menelan ludahnya sendiri untuk menenangkan hatinya. "Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Korea, karena aku masih takut untuk kembali dan berhadapan dengan ibuku sendiri di Thailand. Aku tak mau membuat ia khawatir sebelum aku bisa menenangkan diriku sendiri." Nichkhun lalu menoleh ke arah Wooyoung. "Dan di sinilah diriku, bertemu denganmu." Ia tersenyum, bibirnya melengkung lebar tanpa melihatkan giginya. Jelas sekali itu adalah senyuman yang dipaksakan. Terlebih lagi dengan matanya yang agak menyipit, berusaha menahan air yang menggenang di pelipis matanya.

Tangan Wooyoung di atas pahanya sendiri terangkat pelan, sedikit ragu, tapi kemudian ia memutuskan untuk meletakkannya di atas kepalan tangan Nichkhun di atas paha namja Thailand itu. Mengusapnya perlahan agar kepalan tangan itu tak menengang.

Nichkhun tersentak, ia menatap gerakan tangan Wooyoung di atas tangannya, lalu kembali menatap Wooyoung yang balas menatapnya khawatir. "Gwencana?" tanya namja chubby itu.

Lidah Nichkhun terasa kelu, dan tenggorokannya begitu kering ketika ia ingin menjawab kalau ia baik-baik saja, karena nyatanya ia tidak baik-baik saja. Maka dari itu ia memutuskan untuk kali ini saja, ia ingin jujur pada dirinya sendiri di hadapan Wooyoung. Nichkhun pun memilih untuk menggeleng lemah.

Tangan Wooyoung yang satunya lagi terangkat di udara, terbuka lebar, hendak memeluk Nichkhun. Tapi kemudian ia lagi-lagi ragu. Apa benar tak masalah jika ia memeluknya?

Manik mata Nichkhun melirik tangan Wooyoung itu yang mengantung di udara, tepat di sampingnya tanpa sampai menyentuh tubuh Nichkhun. Namja itu tersenyum tipis, dan kembali menatap Wooyoung.

Garakan tiba-tiba Nichkhun yang malah menarik pinggang Wooyoung dan membenamkan kepalanya di atas bahu Wooyoung, membuat namja chabby itu tersentak dan terkejut bukan main. Tubuhnya dalam pelukan Nichkhun itu, begitu menegang dan jatungnya berdegub kencang, Wooyoung bahkan tak percaya jika Nichkhun tak bisa mendengar detak jantuknya yang berdetak sangat kencang.

Tapi tubuh Nichkhun yang bergetar dalam pelukan itu, dan juga bahu Wooyoung yang terasa basah, menandakan Nichkhun menangis tanpa suara, membuat tubuh Wooyoung luluh juga dan tak menegang lagi.

Tangannya yang tadi menggantung di udara, kini ia letakkan di atas punggung Nichkhun. Mengusapnya pelahan, mencoba untuk menenangkannya.

Nichkhun sendiri tak habis pikir. Sudah lama ia tak menangis dan mengeluarkan semua sakit di hatinya seperti ini. Apalagi, rasanya kali ini begitu melegakan hatinya, mungkin karena ada Wooyoung yang menenangkannya saat ini. Ia begitu bersyukur, karena ia merasa dirinya seolah telah hidup kembali.

"Gomawo..." bisik Nichkhun lirih di antara leher Wooyoung.

Tubuh Wooyoung sedikit merinding merasakan hembusan nafas namja itu di tengkuknya. Tapi ia mencoba untuk mengabaikan perasaan geli yang menyenangkan itu. "N-ndeh... hyung..."
.

.

.

.

Sudah satu jam perjalan terlewati. Tinggal setengah jam lagi bis itu akan sampai di terminal Daegu. Wooyoung menoleh ke sampingnya, dan ia tersenyum mendapati Nichkhun masih menutup matanya dengan kepala yang berbaring di atas bahu kanan Wooyoung. Sementara sebelah tangannya masih saling bertautan dengan sebelah tangan Nichkhun.

Baby face itu tampak begitu damai dalam tidurnya. Tampak cute dan sangat tampan dalam waktu yang bersamaan. Wooyoung tersenyum sambil terus meneliti wajah damai tersebut. Bulu matanya yang tertutup begitu lentik, hidungnya yang mancung, kedua pipinya yang putih dengan bekas air mata kering di sana. Sebelah tangan Wooyoung terulur, menyentuh pipi lembut itu dan mengusapnya. Ya Tuhan, mengapa Engkau menciptakan namja yang begitu tampan bagai malaikat ini.

Manik mata Wooyoung lalu jatuh pada bibir merah Nichkhun. Bibir yang sudah mencuri ciuman pertamanya tempo hari. Masih jelas teringat dalam benak Wooyoung bagaimana bibir itu mengecupnya lembut dan melumatnya dengan cara yang memabukkan. Wooyoung menelan ludah, keinginan untuk merasakannya lagi mendadak muncul dalam benaknya.

Sesuatu dalam diri Wooyoung seolah tak bisa ia tahan lagi sehingga tanpa sadar kepalanya bergerak sendiri untuk lebih dekat lagi. Nafasnya sendiri terasa memburu begitu ujung hidungnya menyentuh hidung namja itu yang mengeluarkan nafas tenang dalam tidurnya. Sementara pikiran Wooyoung terasa kalut dan kacau dalam pertempuran batinnya sendiri untuk melakukannya atau tidak.

Sekali saja, oke, hanya sekali saja. Putus Wooyoung untuk meyakinkan dirinya sendiri dalam hati. Ia tak perlu repot untuk memiringkan kepalanya dan mencari posisi pas, karena letak kepala Nichkhun yang sudah berbaring miring di bahunya itu, seolah sudah siap untuk dicium kapan saja. (lol)

Dan akhirnya bibir Wooyoung mendarat di atas bibir Nichkhun. Wooyoung mengerjap tanpa menutup matanya sendiri terlebih dulu. Tubuhnya terasa tegang, dan wajahnya mendadak menanas dalam sekejap. Tapi yang membuat itu malah terasa semakin aneh, adalah tubuhnya sendiri yang membeku dan seolah tak bisa ia gerakan untuk sekedar mundur dan mengakhiri kecupan bibir itu.

Ia tak rela, merasa belum cukup dan ingin merasakannya lebih dalam dan lama. Oke, tadi dia berjanji untuk melakukannya sekali, tapi bukan berarti dalam sekejap bukan? Wooyoung pun menutup matanya, memutuskan untuk melanjutkan. Kepala tanggung, terlanjur basah pula, pikirnya.

Ia menekan lebih dalam bibir lembut itu, memberanikan diri untuk melumat bibir yang sejak tadi diam. Hatinya bergetar dan jantungnya semakin berdetak kencang. Setelah merasa cukup, meski dalam dirinya masih merasa belum puas. Wooyoung terpaksa melepaskan ciuman itu sendiri. Tak ingin membangunkan Nichkhun.

Namun ia salah besar. Karena begitu ia menarik diri sambil membuka matanya. Ia mendapati Nichkhun sudah menatapnya balik, dengan mata yang terbuka, tentu saja.

Wooyoung terbelalak kaget. "Ommo!" dan ia menyentakkan kepalanya jauh ke belakang saking terkejutnya. 

Hingga membuat kepalanya terbentur dengan kaca jendela bis di belakangnya.

Nichkhun tersenyum geli, sementara Wooyoung semakin salah tingkah dengan mengusap kepalanya sambil meringis. Ia sangat malu bukan main. Oh Tuhan, dimana ia harus menaruh mukanya ketika ia tertangkap basah sedang mencium namja yang tertidur di bahunya. Image yadong bisa saja tercap dalam dirinya karena sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan.

"Ah, i-itu.. a-ano.." Wooyoung semakin gelagapan. Matanya terus bergulir ke arah lain, tak focus dan tak berani menatap Nichkhun yang sudah mengangkat kepalanya dari bahu Wooyoung.

Ia tersentak begitu tangan Nichkhun menyentuh pipinya. Seolah ia baru saja disengat listrik yang menyenangkan dan membuat ia patuh untuk segera menatap Nichkhun, di mana namja itu menatapnya begitu lekat.

Wooyoung tak tahu apa yang harus ia lakukan, bahkan dirinya tak bisa berpikir normal begitu Nichkhun mencondongkan wajahnya untuk lebih dekat dengannya.

Saling menatap, dengan ujung hidung yang bersentuhan. Nafas Wooyoung terasa sesak dan tertatahan, sementara hembusan nafas Nichkhun terasa memburu di wajahnya.

Sebelah tangan Nichkhun yang menangkup pipi Wooyoung, mengusapnya dengan lembut. Matanya perlahan terpejam, diikuti oleh Wooyoung secara nalurinya.

"Kau yang memulainya, Jang Wooyoung," bisik Nichkhun lirih. Memiringkan kepalanya. Bibir mereka nyaris bersentuhan sebelum Nichkhun kembali berbisik dengan suara berat yang tertahan, terdengar begitu seksi di telinga Wooyoung, "Aku jadi tidak sanggup untuk menahan diriku lagi..."

Dan bibir Nichkhun pun meraup bibir merah muda Wooyoung. Membawanya ke dalam ciuman yang lebih intens. Sebelah tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Wooyoung, kini saling bertautan, meremasnya lembut. Sementara tangannya yang mengusap pipi Wooyoung, merambat secara perlahan ke bawah pipi, menuju belakang leher, menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman yang perlahan tapi pasti menjadi cumbuan pada bibir yummy itu.

Sedangkan tangan Wooyoung yang tidak bertautan dengan tangan Nichkhun, meremas pahanya sendiri. Dia mengerang pelan ketika Nichkhun menggigit bibirnya dan dengan segera menginvasi mulut Wooyoung yang terbuka seketika itu juga. Wooyoung dibuatnya melayang dalam ciuman yang memabukkan itu.
Nafasnya semakin sesak dan memburu. Tapi anehnya Wooyoung seolah tak ingin mengakhirnya. Tangannya pun terangkat dan meremas kaus punggung Nichkhun.

Nichkhun melepas ciumannya, hanya untuk membiarkan Wooyoung menghela nafas lega sejenak, dan berganti posisi dalam memiringkan kepala. Dan mereka kembali berciuman. Tanpa mempedulikan apapun di sekeliling mereka. Dan tanpa memikirkan apapun mengenai resiko yang Nichkhun ambil maupun mengenai IU yang mungkin bisa sadar kapan saja di tempat lain dan menanti Wooyoung.

Yang dalam pikiran mereka sekarang hanya ada mereka berdua. Yang mereka rasakan hanyalah sebuah pelukan hangat dan bagaimana menikmati seluruh mulut satu sama lain. Yang mereka dengarkan hanyalah detak jantung yang saling berdegub kencang satu sama lain. Hanya ada mereka, hanya Buck Nichkhun dan Jang Wooyoung.



TaecMin





Rumah seorang duda kini menjadi berkabung karena ditinggal oleh pemiliknya. Beberapa rangkaian bunga yang bertema turut berduka cita, baru tiba dan diletakkan begitu saja di halaman rumah. Kerabat dan teman terdekat almarhum mulai memenuhi ruang tamu, di mana berada peti mati yang terisi jasad almarhum. Bersiap diantarkan ke pemakaman dalam beberapa jam lagi.

Sementara putra sulungnya, masih menyendiri di dalam kamar. Mencoba menenangkan diri yang pastinya sangat terguncang dengan apa yang baru saja terjadi. Kim Minjun, duduk dengan linglung di atas ranjang appa-nya. Ia membungkuk, dan menunduk dalam dengan kedua tangan yang bertumpu pada pahanya dan meremas rambutnya frustasi. Matanya membengkak dan mengering karena air mata yang semalam tak hentinya mengalir. Pikirannya kalut. Sehingga ia tak menyadari Taecyeon yang sudah memasuki kamar itu dan berdiri di sampinya.

"Minjunie," panggilnya pelan.

Minjun tersentak, kemudian ia menghela nafas pelan tanpa menengadah sedikit pun. "Hm," bisiknya lemah.

Taecyeon perlahan mengambil tempat duduk di sampingnya, di sisi ranjang itu. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap bahu Minjun dengan lembut. "Gwencana?" tanyanya hati-hati, meski Taecyeon sendiri tahu apa jawabannya. Ia yakin Minjun tidak akan baik-baik saja dalam beberapa waktu ke depan, mengingat ia ditinggalkan oleh appa-nya untuk selamanya.

"Gomawo," Minjun malah menjawab dengan tidak nyambung, tapi Taecyeon tidak memperotes hal itu. "Gomawo sudah mau mengantarkanku semalam. Berkat kau, aku masih sempat menemui appa-ku di saat-saat terakhirnya..." suaranya terdengar begitu lirih dan serak.

"Tidak perlu sungkan." Taecyeon tersenyum sekilas, senyuman itu tak bisa lebih lebar seperti biasa, mengingat kondisi Minjun di hadapannya yang begitu memperhatinkan, hanya membuat Taecyeon juga merasa sakit.

"Mianhe," bisik Minjun lagi tapi cukup terdengar oleh Taecyeon. "Karena aku sudah menganggu waktumu dengan Yoona."

Taecyeon tersentak dan tangannya langsung terhenti mengusap punggung Minjun. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya pikiran Minjun masih terlintas tentang Yoona, sementara dirinya sejak tadi sudah melupakan sosok yeojachingu-nya sendiri, karena di pikirannya sejak tadi hanya berisi bagaimana cara agar membuat Minjun bangkit dari kesedihannya.

"Kau tak perlu–"

"Kau pikir aku tak tahu," potong Minjun, masih menunduk tanpa menatap Taecyeon di sampingnya. "Aku cukup sadar Taecyeon-ah. Entah sudah beberapa kali kau mengambil poselmu yang selalu bergetar di sakumu. Aku yakin itu pasti dari Yoona. Tapi kau pada akhirnya lebih memilih untuk melepaskan betrai ponselmu dari pada mengangkatnya. Aku jadi merasa tidak enak dengan Yoona."

Entah kenapa Taecyeon malah tidak suka dengan cara bicara Minjun yang terdengar begitu lirih. Tak bisakah ia terus mengungkit hal itu lagi?

Minjun menghela nafas berat. Ia menguatkan dirinya untuk segera berdiri dari ranjang. "Sebaiknya kau cepatlah kembali. Yoona pasti sangat khawatir padamu. Dan aku tidak ingin ia salah paham denganku," tambah Minjun lagi tanpa menoleh sekalipun pada Taecyeon. Ia baru mengambil satu langkah tapi terhenti karena Taecyeon mendadak menggenggam pergelangan tangannya. Seketika itu Minjun langsung menoleh, memberikan sebuah tatapan yang tersirat akan sakit hati dan kecewa yang mendalam, menjadi satu dan menghujani manik mata Taecyeon yang balas memandangnya heran.

Mereka terdiam dengan posisi sama. Taecyeon yang masih duduk di ranjang menggenggam pergelangan Minjun yang berdiri membelakanginya, tapi dengan kepalanya yang menoleh dan menunduk, balas menatap Taecyeon yang mendongak padanya. Kedua mata yang saling memandang dalam diam itu seolah bisa menyiratkan perasaan masing-masing melalui interaksi itu, meski tidak tersampaikan secara jelas.
"Waeyo?" tanya Taecyeon membuyarkan keheningan di antara mereka. "Kau tidak terlihat menginginkan aku pergi."

Minjun mencelos, ia segera memutuskan kontak mata mereka dengan berpaling ke arah depan. "Pergilah... palli!" suara Minjun lebih tinggi dari yang tadi, tapi juga terdengar sedikit bergetar.
Raut wajah Taecyeon mengeras, dan ia mendadak marah dengan sikap Minjun yang mengacuhkannya dan malah mengusirnya.

"Yach! Kim Minjun!" seru Taecyeon sambil berdiri dari tempatnya dan menarik tangan Minjun agar berbalik menghadapnya. "Tatap mataku saat kau sedang bicara!" pintanya tegas dengan suara tak kalah tinggi. Namun seketika itu tatapannya berbubah terkejut begitu ia melihat Minjun mendongak dengan air mata yang menggenang di pelupuk bawah matanya.

"W-waeyo?" tanya Taecyeon takut melihat Minjun yang sepertinya menangis. Apa tindakannya keterlaluan? Sehingga Minjun nyaris menangis hanya karena Taecyeon membentaknya?

Minjun langsung menunduk, "A-aniya..."

Taecyeon menghela nafas pelan. Perlahan kedua tangannya naik ke atas bahu Minjun, dan menariknya lembut ke dalam pelukan. "Mianhe, kalau aku terlalu kasar. Seharusnya aku lebih memikirkan kondisimu."

Minjun tidak menjawab atau membalas apapun. Ia selalu bingung jika dihadapkan dengan sikap Taecyeon yang mendadak begitu lembut dan perhatian padanya. Ia ingin membalas segala perlakuan baiknya, tapi ia takut jika ia tanpa sadar bertindak berlebihan dan malah membuat Taecyeon curiga padanya atau malah lebih buruknya namja tinggi itu akan menjauhi Minjun karena perasaan 'tak wajar' yang diam-diam dimiliki Minjun padanya. Tapi di waktu yang bersamaan, Minjun tak ingin mundur maupun menghindar. Karena ia tak mau menjauh dari Taecyeon, tak mau kehilangan pelukan hangat dan segala perlakuan lembut Taecyeon padanya. Minjun tak akan pernah rela jika itu semua hilang darinya. Karena itu dia lebih memilih untuk tetap diam di tempatnya. Berada di sisi Taecyeon, meski kadang itu membuat ia sakit sendiri.

"Setidaknya kau hargai usahaku. Jangan seenakmu menyuruhku pergi begitu saja," kata Taecyeon pelan, masih memeluk Minjun yang tetap diam dan tak mampu untuk membalas pelukannya.

"Hah?" Minjun mendengus pelan. Sementara tangisnya yang hendak keluar tadi seolah hilang hanya karena pelukan dari Ok Taecyeon. "Memangnya usaha apa yang kau lakukan?" sindirnya.

"Yach! Memangnya kau pikir saat aku ingin pergi mengantarmu itu tidak penuh dengan pengorbanan? Kau tahu sendiri 'kan? Aku bahkan membatalkan pertemuan 'penting'ku, meninggalkan Yoona di sana yang merengek padaku kayak anak kecil. Tapi kau jangan menyalahkan dirimu sendiri. Karena aku sendiri yang telah memilih keputusanku ini," kata Taecyeon cepat, tak ingin Minjun salah paham.

"Ck, ck, ck," Taecyeon mendesah sambil menggelengkan kepalanya dengan cara-cara dibuat-buat. "Di mana lagi kau akan mendapatkan sahabat terbaik di dunia ini seperti diriku? Bayangkan saja. Aku bahkan lebih memilih untuk mengantarmu dan malah meninggalkan yeojachingu-ku di seoul. Apalagi dia adalah yeoja tercantik dan idaman setiap namja di sekolahan kita. Hoh, dosa besar apa yang sudah kulakukan," Taecyeon meringis. "Aissh... para fans-nya pasti akan menggantungku di gerbang sekolah jika mereka tahu hal ini."

Minjun tertawa pelan. "Kau ini, sifat narsis dan lebaymu itu tak pernah berubah."

Taecyeon nyengir mendengar tawa pelan Minjun. Ia senang karena sepertinya ia berhasil mengembalikan mood Minjun, meski itu hanya sedikit.

Minjun membalas pelukan Taecyeon. Tak bisa ia pungkiri kalau dirinya begitu tersentuh dengan apa yang dikatakan Taecyeon ada benarnya. Dia juga tak bisa tahan lagi untuk membalas perlakuan baik Taecyeon padanya.

Minjun pun mendongak di sela pelukan mereka. Dan tersenyum lembut yang tampak begitu cute di mata Taecyeon. "Gomawo~" kata Minjun, tanpa sadar ia membuat suaranya sedikit mendesah manja saking senangnya.

Taecyeon terperangah, dan ia reflek langsung memalingkan kepalanya ke atas, ikut mendongak dan menatap langit-langit kamar. Oh, kenapa wajahnya mendadak memanas dan jantungnya berdetak begitu kencang?

"Hyung!"

Suara namja lain mendadak terdengar dari pintu, menginterupsi suasana fluff di antara mereka. Minjun menoleh dan mendapati Wooyoung yang baru saja memasuki kamar appa-nya.

"Wooyoung-ah!" Minjun melepaskan pelukan Taecyeon dan berlari ke arah Wooyoung. Seketika itu Taecyeon merasa kosong dan hampa menyelimuti hatinya. Kedua tangannya tergantung begitu saja di udara dengan sosok Minjun yang lenyap dalam pelukannya. Kenapa ia malah merasa sakit menghujam dadanya?

Wooyoung juga berlari pelan dan menyambut pelukan hyung tersayangnya itu.

"Kupikir kau tidak akan datang?" kata Minjun pelan. Ia tersenyum pelan dengan bibir yang sedikit bergetar, terharu.

"Yach! Meski hyung masih marah padaku. Aku akan tetap datang dan menemani hyung karena hal buruk ini terjadi pada hyung. Mana mungkin aku hanya diam saja sementara hyung baru saja tertimpa musibah."

"Gomawo. Sebenarnya aku sudah lama tidak marah lagi denganmu. Aku hanya ingin memberikanmu sedikit pelajaran," kata Minjun dengan sedikit candaan.

Wooyoung mengerucutkan bibirnya cemberut mendengar penjelasan Minjun. Sementara Minjun malah tersenyum dan kembali memeluk Wooyoung dengan sayang. Wooyoung pun ikut tersenyum di atas bahu Minjun. Tapi di balik rasa senangnya karena sikap Minjun sudah kembali seperti semula padanya, entah kenapa Wooyoung juga merasakan firasat tak enak. Manik matanya lalu menangkap sosok Taecyeon yang berdiri di sisi ranjang. Menatap Wooyoung dengan tajam beserta aura menyeramkan yang menyelimutinya. Seketika itu Wooyoung bergedik ngeri.

"W-waeyo?" tanyanya bingung dan sedikit takut.

Minjun mengernyit. Ia melepaskan pelukannya dan menatap heran pada Wooyoung yang memandang objek di balik punggungnya. Minjun pun berbalik dan mengikuti arah pandang Woooung pada Taecyeon. Dan namja tinggi itu langsung merubah sosok menyeramkannya menjadi senyuman lebar yang menunjukkan gigi-gigi putihnya pada Minjun.

Minjun mengerjap lucu dengan innocent-nya, lalu kembali menatap Wooyoung. "Kenapa apanya?" tanya Minjun makin bingung. Apalagi Wooyoung, yang baru saja datang dan tak tahu apa-apa. Balas menatap Minjun sama innocent-nya sambil mengangkat bahu tak tahu.

"Hyung~" lagi-lagi suara namja lain datang bergabung dalam ruangan tersebut. Ketiganya menoleh ke arah pintu, mendapati Junho berdiri di sana sambil menatap Minjun dengan pandangan sendu. Di atas kepalanya, menyembul wajah Chansung yang mengintip ke dalam kamar sambil sedikit menjinjitkan kakinya.

"Junho-yah," Minjun menyambut kedatangan Junho yang berlari kecil ke arahnya, dan kedua 'Jun Brother' itu saling berpelukan.

"Gwencana hyung?" tanya Junho khawatir setelah melepaskan pelukan mereka.

"Ndeh, sudah lebih baik sekarang. Gomawo karena kau juga mau datang ke sini." Minjun tersenyum, ia semakin terharu dengan perhatian sahabat-sahabatnya.

"Yach! Hyung pikir hanya Wooyoung pabbo itu yang berlagak sok pahlawan padamu. Kau tidak boleh melupakan diriku, dongsaengmu ini juga perhatian padamu. Apalagi aku lebih cute dari pada Wooyoung," ketus Junho sambil cemberut dengan begitu cute-nya.

Minjun terkekeh sambil mengacak rambut Junho. "Arraso."

Sementara Wooyoung masih terdiam di tempatnya sambil menunduk dalam. Masih teringat jelas, terakhir kalinya ia bertemu dan berbicara pada Junho adalah di taman sekolah di mana Junho mengeluarkan isi hatinya sambil menangis.

Junho melirik Wooyoung dengan kesal. "Yach! Sampai kapan kau akan terus diam begitu?" tanyanya menyadari sikap pasif Wooyoung.

Wooyoung melirik Junho dengan hati-hati. "Kau... masih marah padaku?"

Junho mendengus. "Aku akan terus marah padamu jika kau juga terus mengabaikanku seperti ini," balas Junho sengit, tapi kemudian ia langsung tersenyum, menandakan sikap ketusnya tadi hanya sebuah candaan belaka untuk mengerjai Wooyoung.

Wooyoung yang menyadari itu, ikut tersenyum lebar. Dan ia langsung melompat girang ke arah Junho sambil merangkul rehelnya dari belakang dengan semangat. "Gomawo Junho-yah~ kau memang sahabat terbaik dan murah hati yang pernah kumilikiii..."

"Yach! Yach! Yach!" Junho agaknya meronta dalam rangkulan erat Wooyoung di lehernya. "Senang si senang. Tapi jangan sampai kau membuat aku mati terkecik dong!" protesnya kesal.

Wooyoung lantas melepaskan rangkulannya dan mengangkat kedua tangannya. "Oops! Sorry," katanya tapi dengan nada dibuat-buat tanpa ada rasa bersalah sama sekali yang tampak di wajah cengirnya.

"Aissh! Kau!" Junho nyaris menggeplak kepala Wooyoung, sebelum namja chabby itu bergerak lebih cepat untuk bersembunyi di balik punggung Minjun. Mencari perlindungan sambil merengek manja. "Hyung~"

"Yach! Yach! Jangan membuat hyung-mu menjadi tameng," protes Minjun sambil melepaskan tangan Wooyoung yang meraih bahunya dari belakang.

"Ah, hyung! Kau tidak asik," balas Wooyoung kesal sambil mendorong bahu Minjun dengan tidak sopannya.
Minjun hanya limbung sesaat ke depan karena dorongan Wooyoung tak begitu kuat, dan namja Daegu itu tertawa melihat reaksi cemberut yang ditunjukkan Wooyoung.

Diam-diam Taecyeon yang sejak tadi mengawasi mereka, ikut tersenyum melihat mood Minjun membaik karena kehangatan dan canda tawa yang mereka salurkan.

"Yach! Kalian semua!" sebuah suara berat lain berasal dari Chansung di belakang Junho, yang sejak tadi terdiam semenjak kedatangannya, kini berhasil menarik perhatian semuanya.

Junho yang hendak berbalik untuk melihat namjachingu-nya itu, tertahan dengan sepasang lengan yang merangkul pinggangnya dari belakang. Kepala Chansung bertumpu pada bahu kanan Junho sambil mengeratkan kembali rangkulannya di dada Junho dari belakang. Mata besarnya menatap Minjun dan Wooyoung dan tajam. "Sekali lagi kalian memeluk Junho-ku, aku tidak akan segan menebas kalian."

Seketika itu suasana menjdi hening dengan ke-sweatdrop-an Minjun, Wooyoung maupun Taecyeon. Dan diamnya Junho yang terus berusaha memadamkan rona merah padat di wajahnya.

Lima detik kemudian Minjun dan Wooyoung mendesah secara bersamaan. "Dasar pasangan baru!" sindir mereka berdua dengan kompaknya. Keduanya lalu saling menatap, dan tersenyum miris satu sama lain.

Sementara Taecyeon langsung mendekati Chansung, dan dengan senang hati dia memukul kepala Chansung. "Auw Appo!" maknae tinggi itu meringis kesakitan dan langsung berdiri tegak, melepakan rangkulannya pada Junho. "Waeyo hyung?" protesnya dengan bibir mengerucut.

"Yach! Maknae pabbo! Sejak kapan kau mengancam orang dengan membawa-bawa jurus pedangmu itu, hah?" tanya Taecyeon tak habis pikir. "Aissh... jijja..." dengusnya lagi.

"Wooyoung-ah," panggil Minjun sambil menatap Wooyoung dari atas sampai bawah, yang masih menggunakan jaket abu-abunya di balik seragam sekolah itu. "Kau nekat sekali datang sendirian dari Seoul ke Daegu," kata Minjun khawatir.

"Aniya hyung." Wooyoung menggeleng. "Aku tidak sendirian ke Daegu."

"Mwo? Kau pergi dengan siapa?" Junho ikut bergabung dalam percakapan mereka.

"Dengan seorang teman," jawab Wooyoung.

"Mana orangnya?" tanya Taecyeon.

"Pacarmu?" celetuk Chansung tanpa membiarkan Wooyoung menjawab pertanyaan Taecyeon terlebih dulu.

Seketika itu Junho langsung menyikut Chansung. "Yach! Jaga bicaramu. Apa kau lupa IU masih koma di rumah sakit?"

"Ah. Kau benar. Mianhe," Chansung buru-buru minta maaf begitu melihat wajah Wooyoung berubah sedih dan sedikit menerawang. Tanpa tahu bahwa dalam hati Wooyoung sedang bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia nyaris melupakan IU seharian ini? Wooyoung merasa sangat bersalah. Karena ciuman yang tadi ia lakukan bersama Nichkhun, benar-benar sebuah tindakan perselingkuhan, dan seolah ia menjadi pemeran antagonisnya di sini.

Wooyoung mendesah. "Gwencana," jawabnya agak berbohong. "Temanku tadi tidak mau ikut dengan ku sampai ke sini, katanya ada urusan lain, makanya dia pergi lagi begitu sampai di Daegu," lanjut Wooyoung dengan nada kecewa yang tak bisa ia sembunyikan.

Junho dan Minjun memandang Wooyoung dengan curiga. Teman yang mana? Kenapa Wooyoung tak pernah menceritakannya pada mereka?

Sedangkan Taecyeon menyerngit heran. "Kau sedikit aneh akhir-akhir ini Jang Wooyoung. Kau selalu bilang kalau kau tidak sendrian. Tapi ketika ditanya mana temanmu, dia selalu saja tidak ada dengan berbagai alasan yang kau berikan. Kau tidak sedang berhalusinasi karena stress kan, Wooyoung-ah? Atau jangan-jangan..." Taecyeon menampakkan wajah takut yang dibuat-buat. "Temanmu itu adalah hantu gentayangan?"

"Yach!" balas Wooyoung dengan sengitnya. "Aku tidak se-pabbo itu, tahu! Tentu saja aku bisa membedakan mana halusinasi dan mana kenyataan. Juga yang mana hantu gentayangan dengan malaikan tampan."

"Mwo?" Junho membelalak. "Malaikat tampan katamu?"

Wooyoung gelagapan dengan ucapannya yang keceplosan tadi. "A-aniya!" ia memalingkan wajahnya yang mendadak memerah. Semakin membuat Minjun dan Junho curiga dengan tingkahnya yang janggal.

"Aku 'kan hanya bercanda tadi. Jangan kau anggap serius," timpal Taecyeon sambil nyengir.
.

.

.

.

Sementara itu, di luar sana, tepat di sebuah pohon rindang yang tumbuh tak jauh dari jendela kamar appa-nya Minjun. Tak ada satu pun yang menyadari kalau namja baby face yang dibicarakan Wooyoung itu, sedang duduk dengan santai di salah satu dahan pohon yang kuat. Matanya sejak tadi sudah melihat dan telinganya juga bisa mendengar semua yang telah terjadi di dalam ruangan itu semenjak Wooyoung memasukinya.

Nichkhun mendesah sambil menyandarkan punggung dan kepalanya pada batang pohon di belakangnya. Matanya menatap sendu pada sosok Wooyoung dalam kamar itu melalui sela jendela yang terbuka. "Kau memang namja pabbo, Jang Wooyoung..." lirihnya sambil tersenyum miris.

"Mianhe..." lanjutnya lagi yang terdengar seperti bisikan menyakitkan.
.
.
.
.
_To_be_continue_

0 komentar:

Posting Komentar