Love Note
Chapter 7 / 9
This is Fan-Ficsi from Sayaka Dini
With cast:: Member of 2PM
Jang Wooyoung (17thn)
Nichkhun (18thn)
Lee Junho (17thn)
Hwang Chansung (17thn)
Kim Minjun (18thn)
Ok Taecyeon (18thn)
Junho menatap miris ponsel miliknya. Sudah lima belas menit berlalu semenjak bel pulang sekolah berbunyi. Dan selama itu pula ia masih bertahan seorang diri di dalam kelas yang sepi tanpa murid lain kecuali dirinya. Biasanya, tidak sampai semenit setelah bel pulang sekolah terdengar, Chansung sudah berdiri di depan kelasnya untuk menjemputnya dan mereka akan pulang bersama dengan senyuman mengembang di antara mereka.
Tapi sepertinya itu semua akan menghilang mulai dari sekarang. Mereka berdua memang seangkatan tapi berbeda kelas, memungkinkan mereka untuk tidak saling bertemu dalam sehari. Semenjak tadi pagi saja, Chansung sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di depan Junho. Apa benar, namja yang biasa dijuluki beruang karena jago makannya itu, telah melupakan Junho begitu saja semenjak love note itu dikembalikan Wooyoung?
Dengan malas, Junho mengetikkan sebuah pesan. Meski sedikit ragu, tapi ia tetap mengirimnya pada Chansung.
'Kita akhiri sampai di sini saja. Mungkin ini yang terbaik.'
Mungkin lebih baik jika Junho yang pertama mengakhiri. Akan lebih sakit lagi jika nantinya Chansung mendahuluinya dan berkata ia tidak memiliki perasaan apa-apa lagi terhadap Junho.
Dengan gerakan linglung. Junho berdiri dari kursinya, meraih tas sekolahnya dan secara ogah-ogahan ia menyelempangkan tas tersebut di sebelah bahunya. Berjalan pelan sambil menunduk keluar kelas. Baru saja ia berbelok di depan kelas, langkahnya terhenti karena matanya yang menunduk itu menangkap sepasang sepatu yang menghalangi jalan di depannya.
Perlahan Junho menengadah, bertemu pandang dengan Chansung yang berdiri di hadapannya. Namja tinggi itu memandang Junho dengan pandangan yang sulit diartikan, seolah sedang berpikir keras tanpa mengatakan sepatah kata pun. Junho menantinya untuk mengatakan sesuatu, pandangannya juga terus membalas tatapan Chansung padanya.
Tapi setelah beribu detik yang dilewati dengan keheningan dan hanya saling menatap, membuat hati Junho semakin mencelos. Ia mendengus tertahan, dadanya terasa makin sesak. Junho menunduk, memutuskan kontak mata mereka.
"Bye..." bisik Junho pelan, kemudian berjalan melewati Chansung. Sengaja menabrakkan sebelah bahunya dengan keras pada bahu kekar Chansung ketika ia melewatinya. Sebatas ingin menyampaikan kekesalan hatinya karena Chansung seolah tak tega mengatakan sepatah kata pun pada Junho. Dia bahkan tak mengatakan kata 'maaf' atau 'selamat tinggal' pada Junho.
Makin lama, langkah Junho makin melebar. Dan akhirnya ia memutuskan untuk berlari, bersamaan dengan air mata yang akhirnya tak bisa ia tahan juga. Meninggalkan Chansung sendiri di sana.
Kaki Chansung melangkah ke depan, hendak mengejar Junho. Tapi kemudian ia menahan keinginannya sendiri. Berbagai pikiran dan perasaan bergejolak dalam dirinya. Membuat ia bingung dengan dirinya sendiri. Dan akhirnya dia lebih memilih untuk tetap berdiri diam di sana, dengan pandangan yang menatap punggung Junho yang semakin menjauh darinya. Tanpa sadar, ada perasaan sedikit tak rela dalam lubuk hatinya.
.
.
.
Author
Sayaka Dini
.
.
.
Present
.
.
.
Fanfic of 2pm
"Love Note"
Chapter 7
Fantasy / Romance
Boy x boy
Pairing::
Nichkhun x Wooyoung
Chansung x Junho
Taecyeon x Minjun.
.
.
.
Disclamer : Seluruh cast milik
dirinya sendiri
Fanfic ini milik Sayaka Dini sendiri
^^Hope you enjoy my fanfic^^
.
.
.
...
"Annyeong Wooyoung-ah, pesanan yang seperti biasa, 'kan?" tanya Kangin sumringah pada pelanggan setianya ini.
"Ah, chakkaman hyung," tahan Wooyoung sebelum Kangin memanggil Ryeowook.
Kangin memandang Wooyoung yang tampak gelisah. "Waeyo?"
"Ada yang ingin kutanyakan hyung?" Wooyoung memutuskan untuk bertanya. Ia tidak tahu harus kemana lagi ia mencari Nichkhun. Semenjak love note itu dikembalikan kemarin, Nichkhun tak pernah lagi muncul di hadapannya atau pun membututinya. Apa urusan Nichkhun padanya benar-benar selesai hanya karena kembalinya love note pada Nichkhun? Wooyoung mendesah kecewa. Jadi selama ini kata 'teman' di antara mereka apa tidak ada artinya? Wooyoung bahkan menyesali dirinya yang begitu pabbo karena tak pernah menanyakan nomor telepon Nichkhun. Mungkin karena selama ini Nichkhun selalu ada di sampingnya, Wooyoung jadi merasa tidak membutuhkan alamat ataupun nomor ponsel namja baby face itu.
"Kau ingin bertanya apa?" tanya balik Kangin dengan penasaran.
"Itu hyung. Tentang namja yang sering datang ke sini bersamaku."
"Namja?" Kangin mengernyit heran.
"Ndeh hyung. Namja," Wooyoung mengangguk antusias.
"Nuguya?" (siapa?)
"Itu loh hyung. Namja berkulit putih, ia sedikit lebih tinggi dariku. Rambutnya berwana pirang, dan wajahnya lebih terlihat seperti boneka jika ia tersenyum daripada manusia biasa," jelas Wooyoung. Tapi melihat wajah Kangin yang semakin merengut tak mengerti, membuat Wooyoung kembali melanjutkannya. "Namja yang sering aku ajak bicara di meja favoritku, dan yang selalu kupesankan cappucino untuknya. Apa dia tidak pernah datang lagi kemari, hyung?"
Kangin menganga. Kemudian ia menghela nafas. "Begini Wooyoung-ah," kata Kangin pelan-pelan, seolah tak ingin mengejutkan Wooyoung yang tampak antusias dengan kata-kata selanjutnya yang hendak disampaikan Kangin. "Sebenarnya sudah lama aku ingin menyampaikan hal ini dan bertanya padamu. Semenjak IU-shhi kecelakaan. Kau selalu ke sini sendirian dan tak pernah mengajak siapa pun. Bahkan tentang namja yang kau katakan barusan, aku tidak pernah melihatnya. Akhir-akhir ini kau selalu berbicara sendirian di meja sudut itu, dan tak jarang tertawa kecil tanpa sebab. Itu malah membuat pengunjung lain dan karyawanku mengira kau sedikit gila."
Wooyoung mengerjap bingung. A-apa maksudnya itu?
Kangin kembali melanjutkannya. "Dan juga tentang cappucino yang mulai selalu kau pesan sejak dua minggu lalu itu. Selalu saja tertinggal utuh seolah tak ada yang menyentuhnya setelah kau pergi meninggalkan cafe ini. Aku pikir kau terlalu boros memesan cappucino tanpa ada yang meminumnya."
"K-kau..." bibir Wooyoung bergetar dengan penuh keraguan. "Benar-benar tak melihat namja itu?"
Kangin menatap kasihan pada Wooyoung sambil menggeleng pelan. "Kau tidak sedang berhalusinasi kan? Wooyoung-ah. Hanya karena IU-sshi dirawat lama di rumah sakit. Kau harus tetap kuat dan tidak–"
Ucapan Kangin selanjutnya tidak bisa lagi dicerna dengan baik oleh Wooyoung. Pikirannya seolah penuh dan saling berkecamuk tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kenangan-kenangan yang selama ini ia lewati bersama Nichkhun seolah berputar-putar dalam memori otaknya. Mulai dari awal ia bertemu Nichkhun di tengah jalan, ketika Nichkhun bertanya heran padanya "Kau bisa melihatku?" sampai dengan munculnya Nichkhun secara tiba-tiba di belakangnya, atau pun menghilang secara mendadak ketika Wooyoung berbalik membelakanginya. Kenapa Wooyoung tak menyadarinya selama ini?
Wooyoung berbalik, mengacuhkan ucapan Kangin yang tampak khawatir padanya. Wooyoung berjalan sedikit linglung menuju pintu cafe dengan pandangan kosong. Bahkan hanya sekedar memesan dan memakan eskrim seperti saran Kangin, sepertinya tidak akan mempan untuk menenangkan Wooyoung yang tampak sangat terguncang karena keterkejutannya.
Setelah Wooyoung melangkah keluar dari cafe Bonamana. Hawa dingin langsung menyerang tubuhnya, terasa aneh dan janggal karena ini masih musim panas. Langit sore hari ini saja terlihat begitu mendung, hanya ada awan abu-abu gelap di atas sana. Tiba-tiba ia teringat dengan foto selca yang terakhir kali ia ambil bersama Nichkhun kemarin di kamarnya.
Dengan tergesa-gesa, Wooyoung mengambil ponselnya. Melihat wallpaper terbarunya masih tetap terpampang jelas dalam layar ponselnya. Gambar dirinya bersama Nichkhun yang tersenyum sumringah pada layar sambil mengacungkan jari berbentuk 'v'.
Senyuman Wooyoung mengembang, tapi hanya untuk beberap saat. Karena tiga detik kemudian, gambar foto itu terlihat kabur. Tepatnya pada gambar Nichkhun, perlahan tapi pasti, sosok Nichkhun seolah menghilang dari foto tersebut. Menyisakan gambar Wooyoung sendirian tersenyum dalam gambar itu, tanpa ada namja yang duduk di sampingnya dan merangkul bahunya. Hanya gambar Wooyoung seorang diri.
Senyuman Wooyoung lenyap. "M-mwoya?" tanyanya sendiri dengan bibir yang gemetar dan mata yang mulai menghangat. Ia kembali membuka folder gallery dan mengecek foto terbarunya tadi. Tapi tetap saja, yang nampak hanya foto ia sendirian duduk di atas tempat tidur. "Andwae! Yach! Kenapa kau menghilang!" bentaknya kesal dengan suara yang sedikit bergetar memaki Iphone-nya sendiri. Tak peduli dengan tatapan heran orang yang berlalu lalang di hadapannya.
Sebuah email baru mendadak masuk dari alamat yang tak ia kenal. Perasaan Wooyoung makin tak enak dengan email yang tampak aneh baginya karena datang di waktu seperti ini. Dengan ragu dan takut, ia membuka email tersebut. Dan matanya langsung terbelalak begitu membaca baris pertama.
'Annyeong Uyongie~
Ini aku, Nichkhun.
Ini akan menjadi email pertama dan terakhir yang kukirimkan padamu.'
Maaf, karena aku tak berkata jujur
padamu sejak awal.
Mungkin saat kau membaca emailku ini, kau sudah bisa menduga siapa diriku
sebenarnya.
Yah, kau benar. Aku adalah roh.
Aku tidak bermaksud untuk membohongimu selama ini.
Hanya saja, aku tidak ingin kau takut denganku dan malah meperlakukanku beda.
Seperti yang pernah kuceritakan
padamu.
Semasa aku hidup, aku pernah melarikan diri dari rumahku di Amerika.
Tapi aku tidak pernah bercerita kalau waktu itu aku diam-diam membawa sebagian
besar harta ayahku dan kabur ke Korea.
Saat itu, aku benar-benar berubah menjadi anak nakal.
Karena rasa sakit hatiku pada Ayahku, aku berubah menjadi liar.
Aku tidak ingin melanjutkan sekolahku, dan malah bersenang-senang tanpa batas
di Korea
menggunakan harta ayahku.
Aku melampiaskan kekesalanku
dengan bermain tiap malam di dalam club.
Berfoya-foya, minum, bahkan berjudi pun pernah kulakukan.
Dan saat siang tiba, aku keliling kota Seoul menggunakan mobil
sport putih yang juga kubeli dari uang ayahku.
Kau tahu Wooyoung-ah? Aku sangat nakal dan terlalu sombong saat itu.
"M-mianhe," bisik Junho serak. Tapi Wooyoung tak menjawab, tepatnya tatapannya seolah kosong dengan otak yang terasa kacau. Dengan linglung, ia kembali mencoba berdiri, dan kembali berlari menuju taman sekolah di belakang gedung. Sesampainya di sana, dengan terengah-engah, matanya terus bergulir di sepanjang sudut taman, mencari sosok Nichkhun.
"HYUUNG!" ia kembali berteriak dengan serak. Namun lagi-lagi tak ada suara siapa pun yang menjawab.
Karena kenakalanku itulah, aku dihukum oleh Tuhan.
Sebuah kecelakaan mobil yang diakibatkan oleh diriku sendiri, seketika itu
merenggut semuanya dariku.
Tapi Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk menebus segala dosaku.
Dengan Love Note yang diberikan padaku, aku ditugaskan untuk membuat orang lain
merasakan sebuah kebahagian karena cinta.
Dan karena Love Note
itu pula, Aku bisa bertemu denganmu.
Meski dalam wujud roh, tapi aku cukup senang.
Ternyata Love Note itu juga yang
membuat jembatan antara kita berdua.
Karena kau memiliki Love Note itu lah, kau jadi bisa melihatku, mendengarku,
menyentuhku, bahkan merasakanku.
Aku juga merasa diriku seolah hidup kembali setelah sekian lama.
Karena ada kau yang bisa merasakan kehadiranku, Jang Wooyoung.
Ada kau yang
bisa mendengar seluruh ocehanku.
Ada kau yang
tertawa karena gurauanku.
Ada kau yang
mengomel karena kenakalanku.
Dan juga ada kau yang tersipu malu karena senyumanku.
Meski hanya tiga minggu, tapi kau sudah membuatku sangat bahagia bersamamu.
Gomawo...
Aku sangat terkejut ketika kau mengembalikan Love Note itu padaku.
Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin menerimanya.
Tapi karena saat itu kau terlihat sangat bersemangat.
Apalagi setelah mendengar niat baikmu untuk membahagiakan teman-temanmu.
Aku jadi tidak tega untuk menolaknya.
Lagipula, aku sudah yakin. Cepat atau lambat, aku harus pergi dari sisimu.
Karena sejak awal, kita sudah berbeda Uyongie.
Mianhe...
Kuharap kau mau mengerti Uyongie...
Sekali lagi, terimakasih banyak untuk semuanya selama ini.
Dan aku sungguh benar-benar minta maaf padamu.
Aku tidak bisa mengatakan ini secara langsung padamu.
Karena mungkin saat ini,
Kau sudah tidak bisa melihatku lagi...
"W-waeyo?" gumamnya lirih dengan bibir gemetar. "WAEYO HYUNG? !" teriaknya serak kemudian.
Mungkin sangat tidak pantas untuk mengungkapkannya.
Tapi aku tetap ingin
memberitahukanmu.
Meski aku roh, aku tetap saja memiliki perasaan ini terhadapmu...
Sarangheyo Jang Wooyoung...
Neomu- neoumu Sarangheyo...
Keurigo (dan)
Anyong...
(Selamat tinggal)
by
Nichkhun.
"Jebal hyung..." bisik Wooyoung. Tangannya yang gemetar, karena dingin yang menusuk tulangnya beserta perihnya yang menghujam jantungnya, ia meremas dadanya sendiri. "...k-kau tidak boleh pergi begitu saja...hiks..."
"Aaarghhhh! Hiks...hiks..." Wooyoung meremas kepalanya sambil menangis sekencang-kencang. Ini pertama kalinya ia menangis begitu memilukan dengan rasa sakit bukan main di hatinya. Bahkan ketika IU kecelakaan, ia tak pernah menangis sekencang ini.
.
.
.
.
Seorang suster yang secara rutin ditugaskan untuk mengecek kondisi pasien di ruangan 235 pada jadwal yang sudah ditentukan secara berkala. Dikejutkan dengan perkembangan pasien bernama Lee Ji Eun. Jari tangannya yang perlahan bergerak, bersamaan dengan kelopak matanya yang juga perlahan terbuka, menampakkan sepasang mata obisidian yang memandang linglung. Membuat suster itu memekik tertahan.
"D-dokter! Dokter!" dan Suster itu dengan tergesa-gesa berlari keluar untuk memanggil dokter.
Ketika pandangan IU yang semula buram dan berusaha menyesuaikan cahaya lampu yang masuk, penglihatannya mulai jelas. Yang tampak pertama kali dalam pandangannya adalah sosok tembus pandang namja baby face yang berdiri di samping ranjangnya. Nichkhun tersenyum senduh ke arahnya, tapi lebih tampak seperti senyuman miris.
"Aku sudah mengambulkan permintaanmu, Lee JiEun-sshi..." gumamnya lirih.
Bibir IU yang masih tertupi alat bantu pernapasan, hanya bisa bergerak pelan tanpa suara, tapi Nichkhun cukup bisa memahami arti dari gerakan bibir itu. "Gomawo, Nichkhun-sshi..." bisiknya sambil tersenyum.
Dan perlahan tapi pasti, sosok tubuh Nichkhun pun menghilang, beserta anggukan dan senyuman lembutnya. Tepat setelah itu dokter dan dua suster datang memeriksa kondisi IU.
KhunYoung
Baru memasuki gedung sekolah, seorang yeoja cantik yang ia kenal sebagai adik kelasnya di tingkat pertama bernama Baek Suzy menghadangnya. Sambil tersenyum cantik menunjukkan gigi kelincinya. "Oppa."
"Waeyo Suzy-ah?" tanya Minjun heran.
Suzy mengulurkan tangannya dan memberikan gantungan kunci berbentuk panda yang sedang memegang papan bertuliskan 'I love you.'
Minjun mengambil gantungan kunci cute itu sambil menatap Suzy heran. "Kau–"
"Bukan dariku Oppa," potong Suzy cepat.
"Lalu dari siapa?"
Suzy mengangkat bahu sambil tersenyum misterius. Setelahnya ia melenggang pergi dengan melompat kecil sambil bersenandung riang, membuat rambut panjangnya sedikit terlambai karena gerakannya.
Minjun mengernyit heran, kemudian memutuskan untuk acuh meski dirinya penasaran. Menyimpan gantungan kunci itu di sakunya sambil tersenyum dan kembali berjalan. Setelah ia menaiki tangga ke lantai dua dan hendak menuju kelasnya, kali ini Jung Jinwoon (maknae 2am), namja tinggi yang sekelas dengan Chansung itu mencegatnya sambil tersenyum cute pada Minjun.
"Hyung~" panggilnya sedikit manja membuat Minjun kembali mengernyit heran melihat tingkah para dongsaengnya pagi ini.
"Waeyo Woonie?"
Jinwoon mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sakunya dan memberikannya pada Minjun. "Untukmu, tapi bukan dariku," setelah mengatakan hal itu sambil meletakkan sapu tangan tersebut di tangan Minjun. Jinwoon segera melangkah pergi tanpa mempersilahkan hyung-nya itu untuk bertanya lebih lanjut.
Minjun membuka lipatan sapu tangan itu yang ternyata bergambar kartun panda yang memegang batang bambu, dan juga dengan gambar bendera yang terikat di ujung gambar bambu itu bertuliskan china 'Wo Ai Ni'.
Lagi-lagi Minjun mengernyit heran. Tapi kembali bersikap acuh dan berjalan menuju kelasnya. Kira-kira siapa yang sudah mengerjainya seharian ini. Seingat Minjun, ulang tahunnya sudah lewat empat bulan yang lalu. Kalau pun ini april moop, bukannya sekarang sudah tanggal 15 april?
Baru saja Minjun duduk di bangkunya dengan nyaman. Jaebeom datang menghampirinya, meletakkan sebuah earphone di atas mejanya. Earphone berwana putih dengan gambar chibi panda di masing-masing sisinya, dan di gangang melengkung bagian kepalanya, bertuliskan huruf kanji 'Aishiteru'.
"Untukmu," kata Jaebeom sambil tersenyum.
Minjun melongo terkejut. "Jangan bilang kalau semua ini darimu?"
Tapi Jaeboem menggeleng. "Maaf sudah mengecewakanmu, baby," katanya sedikit bercanda sambil menegedipkan matanya.
"Kalau gitu dari siapa?" tanya Minjun penasaran. Tapi lagi-lagi Jaebeom hanya mengangkat bahu sambil tersenyum misterius, dan melenggang pergi kembali ke bangkunya.
Setelah bel berbunyi dan pelajaran pertama bahasa inggris dimulai, ternyata kejadian aneh itu kembali menimpa Minjun. Di akhir pelajaran, sebelum guru Jeong Ji-hoon, atau yang biasa dipanggil Rain itu keluar kelas. Ia menghampiri meja Minjun dan meletakkan bulpoin putih dengan pinggiran hitam bertuliskan huruf 'Aku mencintaimu' (dalam bahasa Indonesia), dan di ujung pennya ada panda kecilnya. Guru muda itu tersenyum cute dengan menyipitkan matanya sambil berujar ramah, "Untukmu Kin Minjun, dari someone, but it's not from me."
Minjun sempat dibuat menganga melihatnya. Sementara seisi kelas lagi-lagi tersenyum misterius ke arahnya. Bahkan guru terpopuler di sekolahnya itu, Rain, melakukan hal ini padanya. Minjun tak habis pikir, siapa dibalik semua ini.
Begitu bel istirahat berbunyi. Kejadian aneh itu malah bertambah parah meninpa Minjun. Ia yang baru saja keluar kelas dan hendak menuju ke kelas Taecyeon (mereka memang seangkatan tapi beda kelas). Beberapa murid yang ia kenal, mulai dari junior sampai senior angkatannya, mulai dari killer smile JB sampai dengan wakil ketua osis Sohee (Wondergirls). Menghampiri Minjun dan memberikan boneka kecil panda yang memeluk bantalan love pada Minjun, satu siswa satu boneka panda, tapi karena banyaknya siswa yang menghampirinya itu lebih dari sepuluh orang dan tanpa mengatakan sepatah katapun selain sebuah senyuman misterius. Membuat Minjun kesal sekaligus kewalahan dengan tumpukan boneka panda di kedua tangannya.
"YACH!" dan akhirnya dia berteriak kesal. Tapi para siswa itu tidak mempedulikannya dan malah pergi meninggalkan Minjun sendirian di tengah koridor itu. "Aissh... Jijja!" dengusnya kesal. Meski begitu ia tak ingin melepaskan tumpukan beberapa boneka panda itu di tangannya yang mulai berat. Minjun tentu saja tidak tega untuk menjatuhkan satu pun boneka yang menurutnya sangat cute, apalagi ini tentang panda kesayangannya.
"Yach, Minjunie, apa yang kau lakukan di sini?" sebuah suara berat yang dikenal betul sebagai milik Taecyeon, membuat Minjun segera berbalik menghadap namja tinggi yang sekarang mulai terkekeh dengan kondisi Minjun yang tampak kewalahan dengan tumpukan panda tersebut.
Minjun sedikit mendongak, agar bisa melihat sosok Taecyeon dari atas tumpukan boneka dalam pelukannya. "Yach. Kenapa kau malah tertawa di situ? Palli bantu aku, Taecyeon-ah~"
Tapi Taecyeon malah tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya. "Mm... itu..." perlahan ia mengeluarkan sebelah tangannya yang sejak tadi berada di balik punggungnya. Menunjukkan sebuah boneka panda yang jauh lebih besar dari boneka-boneka dalam pelukan Minjun. Boneka panda yang besarnya setengah dari badan Taecyeon itu, memeluk sebuah bantal merah berebentuk hati yang bertuliskan benang putih: 'Sarangheyo Kim Minjun'.
"M-mwoya?" tanya Minjun gugup.
"Ehm, u-untukmu," Taecyeon sendiri tak mengerti mengapa ia begitu gugup. Kemana kepercayaan dirinya tadi selama ini? "Kali ini semuanya dariku, Ok Taecyeon."
"K-kau...di belakang semua ini?" Minjun ikut merona ketika melihat sekilas wajah Taecyeon tampak sedikit memerah.
Taecyeon mengangguk antusias dengan mata yang berbinar melihat wajah merah Minjun. "Ndeh. A-aku bermaksud menembakmu." tapi Taecyeon masih tak bisa menghilangkan kegugupannya.
Minjun mengerjap lucu, sebelum akhirnya ia berteriak lantang untuk menutupi rasa malunya yang luar biasa. "YACH! Begini kah caramu menembakku? Kenapa harus melibatkan satu sekolahan? !"
Seketika itu Taecyeon langsung cemberut karena seruan Minjun. "Apa boleh buat. Aku hanya ingin membuat ini jadi lebih spesial, dan aku ingin seluruh sekolahan tahu bahwa kau adalah milikku!" balas Taecyeon sengit.
"Kenapa kau sebegitu yakin kalau aku akan menerimamu? hah!"
Raut wajah Taecyeon berubah merengut kecewa, ia menunduk tanpa menyadari kalau wajah Minjun sudah memerah bukan main. "Apa..." Taecyeon berbisik lirih. "...perkiraanku salah lagi?"
Minjun menghela nafas kesal karena begitu cepatnya Taecyeon mengambil kesinpulan. Tapi healaan nafas itu di salah artikan Taecyeon sebagai rasa menyesal.
"Ah. Kalau begitu lupakan saja semuanya Minjunnie. Anggap saja ini semua tak pernah terjadi–"
"Pabbo," desis Minjun di sela ocehan Taecyeon.
"–Kau tak perlu merasa bersalah padaku–"
Seluruh boneka panda dalam pelukan Minjun terjatuh begitu saja dan berserakan di lantai.
"–tapi kita masih–"
Satu langkah diambil Minjun untuk lebih dekat dengan Taecyeon.
"–bisa bertem–hmpf!"
Kata 'teman' itu tak pernah bisa diselesaikan Taecyeon karena mulutnya seketika itu terkunci dengan bibir Minjun. Mata Taecyeon membulat, menyadari posisi Minjun yang menjinjit di depannya sambil menangkup kedua pipi tirus Taecyeon dan mencium bibirnya. Menekan bibir Taecyeon lembut sambil menutup matanya, tidak lama, karena niat Minjun hanya untuk mendiami ocehan Taecyeon dan membuat Taecyeon segera sadar akan balasan dari perasaannya sendiri.
Setelahnya, Minjun menarik mundur kepalanya dengan gugup dan kembali berdiri seperti biasa. Dengan kepala yang sedikit menunduk menutupi rona meras di wajahnya. "Aissh... jijja," dengusnya pura-pura kesal sambil menatap beberapa boneka panda yang berserakan di lantai koridor sekitar mereka. "Kenapa panda-panda-ku malah kena imbasnya? Jadi kotor 'kan?"
Minjun hendak membungkuk untuk mengambil salah satu boneka tersebut. Namun gerakannya terhenti karena kedua lengannya tiba-tiba di cengkram dan di tarik ke atas untuk kembali menjijit, sedetik kemudian bibirnya terkunci.
Giliran mata sipit Minjun yang melebar karena gerakan tiba-tiba Taecyeon yang menciumnya. Sementara boneka panda terbesar dalam pegangan Taecyeon tadi, ikut terjatuh di samping mereka.
"Mmmhn!" Minjun mulai ikut memejamkan mata dan menikmati cumbuan Taecyeon yang makin melumat dan menginvasi mulut Minjun. Ia berusaha mem-pabbo-kan dirinya sendiri untuk tidak mempedulikan di mana sebenarnya mereka saat ini. Tapi dalam pikiran jernihnya, Minjun yakin, esok hari dia dan Taecyeon akan menjadi topik pembicaraan panas di sekolahnya. Tapi, siapa yang peduli?
TaecMin
"Cukup Umma, sudah kubilang aku bisa makan sendiri," ujar IU dengan suara pelan yang masih terdengar tanpa tenaga. Ah, Wooyoung nyaris melupakan suara lembut itu.
"Aniya JiEun-ah, umma masih sangat merindukanmu. Biarkan umma yang menyuapimu sampai selesai, arraso?" balas yeoja itu lembut sambil menatap sendu pada IU.
IU menghela nafas pelan lalu mengangguk kecil. "Arraso Umma." Manik matanya tanpa sengaja bergulir pelan ke arah pintu kamar yang terbuka dengan sosok Wooyoung yang berdiri di sana. Seketika itu manik mata obisidian itu berbinar senang. "Wooyoung Oppa!" serunya riang, meski tidak begitu keras karena tenggorokannya masih terasa sakit.
Wooyoung tersentak dari lamunannya. Ia pun ikut tersenyum melihat senyuman gembira dari IU. "Annyeong~" sapanya dengan senyuman lebar yang sebenarnya sedikit dipaksakan sambil melambai pada IU, dan kemudian sedikit membungkuk pada ummanya IU.
Namja chabby itu melangkah masuk dan mendekati IU. "Tada~" ujarnya tersenyum riang sambil menunjukkan rangkaian bunga tulip putih favorit IU dari balik punggungnya.
Tapi IU malah mengerucutkan bibirnya cemberut.
"Waeyo? Kau tidak suka?" tanya Wooyoung mengernyit heran.
"Aku memang menyukai ini. Tapi aku lebih senang lagi kalau Oppa memelukku~" rengeknya manja sambil merentangkan kedua tangannya.
Wooyoung terkekeh geli. Ia pun menuruti keinginan yeoja manis itu, membungkukkan sedikit bandannya untuk merengkuh tubuh ringkuh yang sekarang agak menghangat dari biasanya. Memeluknya.
"Oppa," bisik IU pelan dalam pelukan Wooyoung.
"Hm?"
"Aku sangat merindukanmu," entah kenapa kalimat yang seharusnya penuh akan kegembiraan itu malah terdengar lirih. "Kau juga merindukanku, 'kan? Oppa?"
Lidah Wooyoung mendadak terasa keluh. Rasa bersalah yang luar biasa besar menimpa bebannya. Padahal kemarin ia nyaris berpaling dari IU dan lebih memilih bersama Nichkhun, jika saja Nichkhun tidak mendadak pergi meninggalkannya. Apa ini semua hukuman yang sengaja diberikan Tuhan padanya? Karena ia nyaris saja menorehkan sebuah luka pada yeoja polos seperti IU yang tak tahu apa-apa.
Wooyoung berdehem, ia menutup matanya sambil mengangguk pelan. "N-ndeh," tapi ia tak mampu menyembunyikan getaran dari suaranya. "A-aku..." ia mulai menitikkan air mata, entah itu tangis sedih karena kehilangan Nichkhun, atau malah tangis bahagia karena akhirnya IU kembali padanya. Wooyoung tak tahu, karena perasaannya begitu kacau, tercampur aduk menjadi satu yang malah membuat Wooyoung bingung.
"Aku juga merindukanmu..." ujarnya pelan kemudian dan semakin mengeratkan pelukannya pada IU.
Mungkin, memang inilah yang terbaik untuknya. Pada akhirnya, ia kembali lagi dari awal...
KhunWooIU
Seorang penjaga berwujud namja yang berwajah 'unik'. Dengan mata kecilnya menatap garang pada Nichkhun. Tulang pipinya yang tirus dan dagunya yanga agak menonjol, membuat tampangnya agak menyeramkan. Penjaga gerbang yang memiliki nama Park Jinyoung atau biasa dipanggil JYP, membuka lembaran per lembar buku tebal di tangannya. Dan kembali menatap garang pada Nichkhun.
"Kau! Keluar dari barisan!" serunya tegas.
"W-waeyo?" Nichkhun mulai takut karena penyambutannya malah diberikan bentakan. "Kenapa aku harus keluar? Aku sudah menyelesaikan tugasku, love note yang dulu kau berikan padaku itu sudah hancur. Apalagi yang harus kulakukan agar diterima masuk ke dalam?"
JYP mendengus. "Aku tidak peduli lagi dengan apa yang akan kau lakukan selanjutnya. Yang penting kau harus keluar dari barisanku dan tidak boleh masuk tanpa seizinku!"
"Kenapa? Aku masih tidak mengerti."
"Itu karena namamu belum masuk dalam daftarku tahun ini!" ujar JYP kesal sambil menunjuk-nunjuk buku tebalnya. "Karena itu kau tidak boleh masuk secara ilegal. Sekarang pergi! Ka! Palli!" bentak JYP kesal, karena menurutnya Nichkhun telah membuang waktu berharganya.
Nichkhun beringsut mundur ketakutan melihat wajah garang JYP, kemudian ia pun keluar dari barisan dengan langkah tanpa arah. "Aigoo..." desahnya bingung sambil menggaruk kepalanya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada dirinya sendiri?
.
.
.
.
To be continue






0 komentar:
Posting Komentar